Di Bulan Tak Ada Soto
Friday, January 26th, 2007
“ Di bulan tak ada soto”, kalimat itu terdengar di
ujung telepon.
” Dengan siapa saya bicara?”
” Aku Mawan”
Gombi kaget. Itu Mawan, kawan lamanya yang entah di mana dia selama ini. Mawan yang
bak ditelan bumi, tanpa ada yang tahu ke mana perginya.
Bagi mereka yang biasa menghabiskan malam
minggunya di taman kota, maka Mawan
bukanlah nama yang asing. Siapa saja di situ tahu siapa dia. Di taman itulah tiga tahun yang lalu Gombi mengenalnya.
Perkenalan mereka bukanlah perkenalan formal yang mengesankan, bahkan tanpa ada
proses perkenalan sebenarnya. Karena tiba-tiba saja Mawan sudah ada di tempat
itu. Dia masuk dalam kumpulan orang-orang di situ, tenggelam dalam
obrolan-obrolan mereka. Awalnya dia cuma mendengarkan saja, namun lama-lama jadi
banyak bicara. Dan sebentar saja dia jadi akrab dengan orang-orang di situ,
termasuk Gombi.
” Nah, sudah ingat kau sekarang?”
” Ya, kemana saja kau selama ini?”
” Panjang ceritanya, kalau kuceritakan sekarang,
bisa bangkrut pulsaku, sedang kau sendiri tak mungkin percaya”
Gombi jadi ingat, betapa Mawan adalah seorang
pembual. Pembual yang gagal. Saat pertama dia bercerita, mulanya orang percaya
saja. Tapi tidak lama, orang-orang merasa selalu ada yang janggal dengan
cerita-cerita itu.
Seperti waktu
dia bilang bahwa dia seorang mahasiswa desain dari Bandung. Orang-orang tadinya
percaya. Mawan memang tergolong nyentrik. Betapa tidak, rambutnya keribo lusuh
dengan kumis dan jenggot yang lusuh pula. Di telinganya menancap beberapa buah
anting yang asimetri antara telinga kanan dan kiri. Pada tangannya terdapat
gelang aneka macam dan semuanya termasuk aksesoris yang unik dan gaul.
Pakaiannya unik. Dia kerap menggunakan baju koboi yang penuh dengan
rumbai-rumbai tali. Kalau tidak, dia mengenakan sweater dengan lengan yang cuma
panjang di sebelah kanan. Setiap malam minggu, kumis, jenggot dan rambutnya
semakin lusuh. Demikian pula bajunya. Namun gelang dan anting-antingnya selalu
berganti-ganti.
Namun seminggu berselang, ceritanya berubah. Dia
pernah mengaku sebagai seorang wartawan. Dan orang-orang masih percaya walaupun
setengah ragu. Paling tidak, tiap datang ke tempat itu selalu dengan tas ransel
yang setia bersandar di punggungnya. Mereka pikir ada perangkat kamera di
dalamnya. Di malam minggu berikutnya, ketika salah satu mereka bertanya lagi,
memeriksa apakah jawabannya berubah, dia menjawab bahwa dia seorang pelaut yang
baru pulang bertugas dari Batam. Itu baru satu kasus. Bayangkan saja, sedang
Mawan banyak bercerita tentang apa saja. Dan semuanya selalu berubah tiap kali
mengulangi.
” Hei, anak-anak taman kota mencarimu?, menghilang
ke mana sih kamu?”
” Kau pasti kaget”
” Baik. Ngomong-ngomong di mana kamu sekarang?”
” Itupun kau takkan percaya. Aku ada di bulan”
Meledaklah tawa si Gombi. Bukan pertama kali ini
Gombi tertawa mendengar bualannya. Di taman kota, bualan Mawan sudah menjadi
bahan hiburan bagi orang-orang. Tiap kali dia membual yang mendengar pasti
terpingkal-pingkal. Dan anehnya dia seolah tidak peduli, dan menganggap
orang-orang percaya dengan ceritanya. Karena itulah orang-orang jadi tertarik,
bukan karena ceritanya yang mengagumkan, tapi karena bualannya adalah obat
stres yang mampu membangkitkan tawa. Dan mereka pura-pura saja percaya.
” Lantas apa yang kamu bikin di bulan sana?”,
tanya Gombi sambil menahan agar tawanya tidak meledak lagi.
” Ah, di sini membosankan, tahu kau kenapa?”
” Kenapa memangnya?”
” Di bulan tak ada soto”
Sekali lagi Gombi terbahak.
Gombi ingat betul bahwa Mawan doyan soto. Di taman
kota terdapat warung soto ayam yang jadi langganannya. Tapi Mawan tak pernah
membayar, melainkan orang lain yang bayar, sebagai barter. Barang barternya
adalah aksesoris yang melekat di tubuhnya. Bisa gelang maupun anting-anting,
atau benda-benda lain yang disimpannya dalam tas ranselnya. Tas yang tak pernah
lepas sedetikpun dari dirinya, dan tak seorangpun boleh menyentuhnya.
Gombi dulu pernah penasaran dengan asal-usulnya. Memang
tak ada yang tahu siapa sebenarnya Mawan si pembual itu. Saking penasarannya,
demi mengetahui di mana dia tidur dan melewatkan hari-harinya di siang hari,
Gombi berniat membuntutinya. Dan itu bukan pekerjaan mudah, sebab Mawan selalu
ada di Taman kota sampai orang lain pulang, sehingga tak ada satupun yang tahu
ke mana dia pulang.
Waktu itu dini hari. Diam-diam Gombi mengikutinya.
Mawan berjalan meninggalkan taman menyusuri jalan raya. Sampai di ujung jalan
dia membelok. Gombi masih mengikuti. Matanya awas mengawasi dirinya. Pada
sebuah blok di ruas jalan raya, Mawan membelok. Gombi cepat menyusul. Di blok itu
dia tak melihat Mawan. Pemuda itu menghilang. Dan ternyata bukan cuma Gombi
seorang yang pernah mengikuti. Banyak yang iseng mau tahu, dan kehilangan jejak
seperti halnya Gombi, persis di tikungan blok itu.
Pada suatu
malam, Gombi pernah merayunya untuk membongkar isi tasnya. Dia menolak. Tapi
Gombi dan kawan-kawannya terus merayu. Akhirnya dia menurut, dikeluarkannya isi
tasnya satu persatu.
Semua tergelak melihat satu persatu barang yang
dia keluarkan. Ternyata tas itu penuh dengan benda-benda yang tak berharga sama
sekali. Mawan punya hobi aneh, yaitu memunguti benda-benda yang nggak penting.
Dari tasnya muncul karcis bis kota, sedotan, label baju, bolpen yang sudah mati
dan benda-benda tak berguna lainnya. Setiap dia keluarkan satu benda maka tertawalah
orang-orang sambil mengolok-olok. Tapi Mawan tak merasa diketawai, biarpun
malah ada yang memakinya sebagai orang sinting. Barulah ketika Mawan
mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam
dari tasnya, tak ada yang tertawa. Semua diam, melotot dengan ekspresi kejut
yang luar biasa.
Sepucuk pistol berada dalam genggamannya.
” Tenang saja, ini sudah rusak”, katanya. Semuanya
menahan napas, kaget itu belum lepas. Lantas dia tertawa keras-keras. Tawanya
membahana di tengah sunyi orang-orang yang masih menganga.
Sejak malam itu Mawan tak pernah muncul lagi. Tak
ada yang tahu ke mana perginya dia. Peristiwa itu empat tahun yang lalu.
” Tahu tidak, dari sini bumi semacam bola basket.
Dan coba kau beritahu aku, Gom, ada semacam tanda garis di bumi yang tampak
dari sini. Apakah itu?”
” Mungkin Tembok Cina”
” O..o..Hebat betul orang Cina, mereka bikin bumi
jadi bertanda”
” Ah, sudahlah, kamu pulang saja, kami rindu ingin
dengar ceritamu, toch, kau bilang di sana tak ada soto”
” Benar, di bulan tak ada soto”
” Ya, sudah, besok malam kita makan soto di taman
kota, setuju?”
” Yaaa, kau
tahu sendirilah jarak Bulan ke Bumi. Dan lagi di sini memang tak ada soto, Gom,
tapi ada kok yang jual Rawon, pecel dan CapCay, kurasa aku bisa beradaptasi. Okay,
kapan-kapan kutelpon lagi”
Telepon putus. Itulah kali terakhir Gombi
mendengar suaranya.
***