Archive for February, 2007

0 db

Saturday, February 24th, 2007

Kekosongan itu kunamakan sunyi,
adalah 0 db yang bikin kebosanan jadi berkuasa
atas jiwaku yang lantas merintih,
menangis.

Ada bidadari di sudut kamar
matanya kosong, nanar
Bidadari bisu?
Eh, malah senyum,
senyum tawar bidadari yang tidak [lagi] perawan

0 db masih
merasuk ke tiap pori kulitku,
menyusup ke dalam daging
bersemayam dalam jiwa yang menyesal.

Berzina itu dosa,
Dosa?
Dosa itu dahaga yang menipu
Menipu itu dosa

"Mana yang berdosa, berzina atau menipu?" tanyaku lirih,
kulempar mataku ke pojok,
bidadari itu kini berjongkok
matanya mencari sesuatu, mungkin rokok

"habis" kataku, masih lirih
matanya menyayu tanda kecewa
Bidadari yang kecewa?
Bidadari bisu yang kecewa?

0 db lagi,
sedang kantuk belum terasa.

GUNTING

Saturday, February 10th, 2007


 Dia berdasi. Berjalan
tegap dengan langkah panjang, disiram terik siang. Di tangannya tergantung tas
hitam yang berayun seirama dengan langkah sepatunya. Peluh membasahi dahi,
bergulir di wajah, meresap di bajunya. Sepatu kulit yang hitamnya telah pudar
berdebam mengepulkan debu, menginjaki bayangannya sendiri.

Teringat
dia semasa masih di desa. Orang mengenalnya sebagai jago silat. Bila dia
berjalan semua orang yang berpapasan akan menyapanya. Tua, muda, laki-laki atau
perempuan. Yang pria selalu menyapa dengan penuh kekaguman.

Para

perempuan menyapanya dengan sejuta harapan. Namun dia bukanlah pemuda yang
genit. Dia berwibawa. Sikap itulah yang bikin wanita-wanita di desanya semakin
penasaran. Penasaran dan penuh pengharapan.

 Namun hidup di

kota

tak seramah yang pernah dibayangkannya.
Hari ini entah sudah berapa jauh dia berjalan. Tak ada yang peduli selain
penjaga perumahan elit yang sering menatapnya dengan tatapan jengkel. Keluar
masuk lorong, perumahan, menyusuri jalan raya, membelok lagi, perumahan lagi.
Titik-titik peluh semakin penuh dan deras meleleh.

Di
depan sebuah rumah dia berhenti. Disekanya wajahnya dengan sapu tangan yang
telah dekil. Dengan langkah ragu dia
menuju pagar.

Ah, paling-paling diusir, gerutunya kesal
dalam hati. Kesal, kenapa aku harus kesal, pikirnya.
Dia punya senjata
ampuh untuk membunuh rasa kesal. Mengenang. Ya, mengenang masa lalu yang indah.


Malam nanti sudikah engkau temani aku ke pasar malam?”

Napasnya
berhenti sejenak demi mendengar permintaan itu. Matanya berbinar. Pada suatu hari Rusmini mengajaknya, dengan tiba-tiba
pula.


Aku mengaji dulu, Rus”


Baik, selepas mengaji kau jemput aku, sudikah?” Rusmini merajuk manja.

Dia
tatap mata Rusmini. Sedang jantungnya berdetak kuat-kuat. Dia mengangguk. Selepas mengaji dengan
bersiul-siul dia berjalan ke rumah Rusmini.
Berbunga-bunga hatinya waktu
itu.


Gunting ini buatan Cina. Bisa memotong apa saja. Tali, kabel dan kawat;
semuanya putus”.

“ Hmm, lain kali saja”

Usai mengucapkan permisi pada pemilik
rumah, dia jalan lagi. Makin lama langkahnya tak secepat sebelumnya.
Rasa
haus menggerogoti tenggorokannya. Tapi bagi seorang yang dianggap pendekar
macam dia, rasa haus semacam ini seharusnya bukanlah lawan sepadan. Ditelannya
ludahnya yang lengket. Tapi haus semakin terasa. Di ujung gang dia berbelok. Jalan
raya.

Matahari
bertahta di puncak langit. Berpijar sekejap. Angin menghembus, dasinya melambai.
Peluh jadi pendingin tubuhnya manakala angin membelainya. Saat itu matanya
terpejam. Terasa kenikmatan yang luar biasa. Tapi cuma sekejap. Dia ingat kapan
pernah merasakan kebahagiaan semacam ini. Kadarnya sama, hanya ada yang berbeda.
Kebahagiaan pada suatu malam saat purnama tampil berwibawa di kaki langit, dengan
seorang gadis manja bergayut di lengannya.


Ingatkan aku beli martabak buat ibu, mas”, Rusmini berkata manja. Dan malam itu
malam terindah baginya. Berdua menyusuri jalan menuju pasar malam. Disaksikan
malam. Rusmini bercerita banyak sepanjang perjalanan itu. Dalam di relung
batinnya dia berucap, ‘ Gadis ini perempuan terindah yang pernah kutemui
sepanjang umurku’.

Dia
perhatikan wajah Rusmini yang asyik bercerita. Alangkah cantiknya gadis ini,
pikirnya. Dengan sikap dan tutur katanya yang lembut, ditambah lesung pipit
yang terukir saat senyumnya mengembang. Saat Rusmini menoleh barulah dia lempar
wajahnya ke muka. Rusmini cemberut. Tapi senang. Pemuda ini rasanya ada hati
padanya.


Gunting ini buatan Cina. Bisa memotong apa saja. Tali, kabel dan kawat;
semuanya putus”.


Hmm, saya sudah punya”

Dia
ditelanjangi terik surya. Dan tas hitam yang ditentengnya tak berkurang
beratnya semenjak pagi tadi. Pada langkah kesekian dia meringis. Bekas luka di betis
kanannya terasa nyeri. Pegal di bahunya semakin nyata. Dia pindahkan tas ke
tangan kiri. Kakinya terasa perih. Sepatunya kekecilan. Dia meringis lagi.

Di
bawah pohon dia hentikan langkahnya. Ditariknya napas panjang-panjang sampai
dadanya penuh, lantas dia hembuskan sekuat tenaga. Membetulkan letak dasinya
membuat dia teringat si Jambul. Saat siang hari seperti ini, di desa begitu
nikmat. Biasanya dia ditemani Jambul duduk di bawah pohon nangka di tepi sawah
meniup seruling. Masih hidupkah si Jambul?, pikirnya. Terngiang di telinganya
bunyi gemerincing kalung si Jambul saat sahabatnya itu membajak sawah.

Bila
mentari tergelincir sedikit ke barat, maka itu waktunya dia berlatih silat. Di tanah lapang dekat sumur di belakang
surau dia biasanya berlatih. 


Ajari aku silat”


Perempuan lembut sepertimu tak pantas belajar silat. Menyulam sajalah”

Rusmini
cemberut manis sekali. Dan pemuda yang sedang bertelanjang dada di hadapannya
tersenyum senang penuh harapan.


Tunjukkan padaku jurus-jurusmu”, pinta Rusmini. Gadis itu sering menemaninya
saat berlatih. Kalau datang ia membawa sekendi air dingin dan kadang dengan sepiring
pisang goreng.


Baiklah, ini jurus empat gelombang”, ujarnya sambil memasang kuda-kuda. Lantas
ia melesat dengan tinju teracung dan meloncat ke samping.


Jurus gelombang timur merengkuh “, Sambil teriak dia bergeser ke depan. Kini
jaraknya tinggal tiga langkah dengan Rusmini. Gadis itu terpukau.


Merengkuh malam mengejar bidadari “, Dia meloncat ke depan sambil meninju,
tentu saja gadis itu kaget dan memekik.


Bidadari tertangkap, cintanya kupetik “, lembut jurus itu diucapkan hampir
berbisik. Serta merta dirangkulnya Rusmini, ditariknya wajah gadis itu hingga
dua wajah bersatu. Rusmini tidak melawan. Jurus terakhir pemuda itu terlalu
indah untuk dilawan. Oh…   


Gunting ini buatan Cina. Bisa memotong apa saja. Tali, kabel dan kawat;
semuanya putus”.


Hmm, kami belum butuh”

Melangkah ia keluar pagar tanpa diantar oleh
yang punya rumah.
Rumah itu letaknya persis di depan pohon tempat dia
tadi berteduh. Dia mengaduh pelan. Betis kanannya makin nyeri. Juga mata
kakinya. Tapi tas hitam yang dijinjingnya tak kunjung ringan jua. Matanya
dilemparkan ke sekeliling mencari penjual minuman. Ia kepingin es tebu, atau es
apa sajalah.

“ Bulan depan aku mau cari kerja ke kota
“, kalimat yang loncat dari mulut Rusmini waktu itu bikin dia terbelalak.
Rusmini
akan bekerja di

kota

?,
artinya bahwa dia akan merasakan rindu yang dalam, rindu pada gadis yang selama
ini ada kapanpun dia ingin bertemu. Dan tinggallah resah yang dirasakannya
karena tak mungkin dia melarang niat kekasihnya itu.

Dan
tibalah hari itu. Rusmini dibawa pak Kir mencari pekerjaan ke

kota

. Pak Kir adalah warga desa yang kerjanya
membawa orang-orang untuk mengadu nasib di

kota

. Singkatnya dia itu makelar. Tenaga
kerja yang disalurkannya adalah tenaga kasar. Buruh atau pembantu.


Gunting ini buatan Cina. Bisa memotong apa saja. Tali, kabel dan kawat;
semuanya putus”.


Hmm…, kalau buat penjual tebu kayak saya, buat apa gunting begini, Mas.


Pakai pisau, apa-apa mesti putus”

Dia
tersenyum. Betul juga, pikirnya. Pak penjual tebu ini cari uang

kan

susah. Tidak mungkin
ia sisihkan penghasilannya hari ini sekedar buat beli gunting. Biarpun gunting
ini bisa buat potong besi sekalipun. Dia amati penjual tebu itu. Tua, kurus, berpeci.
Kumis dan alisnya sudah putih. Orang tua ini mirip pak Kir, benaknya berkata.


Aku bukan seorang gadis lagi, mas”, Rusmini menangis sesenggukan. Jelas dia
kaget. Baru dua minggu Rusmini pergi. Kini gadis itu sudah kembali, dengan
airmata bercucuran pula. Lantas perempuan itu bercerita.

“Sesampainya
di

kota

aku
ditampung di sebuah rumah milik teman pak Kir dekat stasiun. Di tempat itu cuma
aku dan dia. Aku tinggal di

sana

selama tiga hari, selama itu pak Kir mencarikanku majikan.

“ Pak Kir pernah bilang bahwa aku mesti manut
sama dia. Kalau tidak, tak akan ada kerja untukku.


Aku harus turut perintahnya. Aku tidak mungkin kembali. Aku malu. Pak Kir
mengancam akan menyebarkan berita bohong bahwa aku tidak laku.

“ Akhirnya pada malam terakhir tidur di
sana, orang tua itu bilang bahwa dia sudah dapat majikan.
Lantas dia
memaksaku, katanya itu imbalan atas jasanya”. Rusmini tidak sanggup menyelesaikan
ceritanya. Tangisnya membuncah.

Darah
pendekar sang kekasih mendidih. Dia memekik. Badai amarah yang melanda hatinya
bebas menjulang ke angkasa dibawa gelombang suara. Udara sekitar bergetar. Berlari
dia keluar. Dengan napas memburu dan mata menyala, dia pacu langkahnya menuju
rumah pak Kir. Makelar itu sedang duduk di teras rumahnya sambil menghisap
rokok kretek. Dan belum sempat orang
tua itu berkata sepatah katapun, diterjangnya hingga terpelanting.
Dia
tarik kepala pak Kir yang sudah tak berdaya dengan satu tangan. Diseretnya
bagai kambing. Di luar rumah dia tanam bogem mentahnya ke perut makelar itu. Orang
tua itu teriak minta ampun sambil menyembah memegangi kakinya. Tiada sedikitpun
rasa kasihan yang tersirap dari wajahnya, malahan sikutnya berulang-ulang
menghujam keras bagaikan cangkul petani yang diayunkan untuk menggemburkan
tanah cadas yang retak-retak. Lepas itu pak Kir terkapar sunyi, dari hidungnya
darah mengucur. Nanar dan gontai dia pulang ke rumah.

Tak
lama, polisi datang ke rumah menyergapnya. Awalnya dia menurut saja. Namun
ketika salah satu polisi mendorong kepalanya dengan kasar sambil memakinya, dia
jadi gelap mata. Berbalik dia dengan cepat. Ditanduknya hidung polisi itu
hingga roboh. Polisi yang lain mencabut pistol. Melihat itu dia lari. Tapi
pistol itu meletus juga. Dia lari tanpa menengok ke belakang.

Setelah
agak lama terasa betis kanannya perih luar biasa. Sekilas dia melihat darah. Dia
gigit bibir bawahnya. Sambil itu dia terus lari. Peristiwa itu adalah alinea
pertama dari kisah pelariannya.

Sebuah
pelarian yang gagal.

Itu
sudah sepuluh tahun silam. Rentang waktu yang dilewatinya mulai dari pelarian gagal
itu hingga bebas dari kungkungan tembok penjara.

 Dia pandangi gunting di tangannya. Gunting itu
masih terbungkus dalam kemasannya. Dia sendiri belum pernah menggunakannya. Entah bisa memotong tali, kabel bahkan kawat,
dia sendiri tak tahu. Dia
merasa tak pernah mau tahu. Yang jelas gunting
itulah hidupnya saat ini. Tak laku dijual seharian maka hari itu pula dia akan
kelaparan.

Dia
masukkan gunting itu ke dalam tasnya, di mana beberapa buah yang lain masih
tersimpan. Masing-masing mewakili impiannya. Impian seorang jago silat yang
lalu jadi penghuni penjara dan kini menjadi penjual gunting.

Dipandangnya
sepatu kulit lusuh di kaki, lalu dasi di dadanya. Betapa kejam hidup di

kota

, batinnya. Hidup
tergantung pada gunting.

Dia
merogoh kantung celananya. Es tebu ini mesti dibayar. Hidup masih terus.

                                   TAMAT

  Nie cerpen pernah ikut sayembara cerpen Festival Seni Surabaya 2004, tapi kalah seleksi. Yang menyeleksi waktu itu Budi Dharma. Yg lolos seleksi dibuatkan kompilasi.
Yang lolos senior semua. Punya nama. Bukannya iri, tapi banyak karya yg dimuat yg ga berkualitas.
Ya, saya sih tahu diri. Saya akan merasakan kesulitan yg sama kalau berada di posisi pak Budi Dharma.


MALING SAPI

Saturday, February 10th, 2007

Sapi itu dipanggul seperti ayah dan anak. bunyi jangkrik adalah nyanyian sunyi di malam yang syahdu. Angin mati. Pohon-pohon di tepi sawah tegak tak bergerak. Cahaya bulan redup menimpa sawah, jatuh di daun-daun, jatuh menyiram tubuh itu. Tubuh yang merangsek menyibak padi-padi. Tubuh yang mandi keringat, dengan seekor sapi meringkuk di atas punggungnya.
Entah sudah berapa lama dari balik pohon pisang, dua pemuda  mengintip orang itu sambil menahan napas. Mulut mereka terbuka lebar dengan mata yang melotot seperti itu bolamata sudah bosan tersimpan di tempat asalnya. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya karena sekuat tenaga mereka menjaga agar sunyi tetap setia. Karena bila sekali saja mereka merobek sunyi , maka sosok yang tegak membelah sawah itu, yang menggendong sapi, akan menyadari kehadiran mereka. Dan nyali mereka belum siap untuk bertegur sapa dengan sosok hitam itu. Hanya melihat. Ya, hanya melihat saja mereka sudah merasakan keguncangan jiwa yang luar biasa, yang bikin kencing tak terasa, yang bikin gemetar sekujur badan.
Hingga sosok tinggi besar itu hilang ditelan gelap, barulah boleh mereka bersuara.
“ Maling sapi “, bisik Munari. Lepas itu jeda. Hanya bunyi gemerutuk gigi yang keluar dari mulut Tonami.
“ Tadi sepertinya dia melihat kita”
Munari merogoh celananya. Basah. 
Keduanya saling pandang. Pada dahi mereka titik-tik peluh menggantung. Juga di atas bibir.

“Setankah? “

“ Dia maling” 
Keduanya diam. Merasa tak ada yang perlu perdebatan. Pikir mereka apapun wujudnya, sosok tadi mengerikan. Dan bukankah semua maling itu setan ?
“ Jangan cerita-cerita kalau kita lihat “, kata Munari. Tonami diam. Kengerian masih membekas di jiwanya, dalam bentuk getaran samar yang merambat melalui saraf-saraf tangan. Gemetarlah tangannya. “Kenapa?” bisiknya, hampir tak bersuara.
“ Bodoh, apa kau tidak punya malu? Mestinya kita teriak sambil meloncat maju, menghabisi itu maling pake kayu atau batu. Tapi apa yang kita bisa?, kita cuma diam dan terpaku “.

“ Tapi, wajar, kita kan cuma berdua “
“ Bodohnya kau Ton, kau pikir aku ini siapa”
Tonami lantas mengerti. Dan rasa  kecewa terbit di hatinya. Betapa Munari, seorang yang dia banggakan, yang dia anggap sebagai orang tanpa rasa takut, ternyata sama saja dengan dirinya. Dia gemetar, Munari pun gemetar. Dia ternganga, Munaripun idem. Dan yang lebih parah, Munari malah kencing di celana.
Maka wajar saja bila kawannya itu melarangnya untuk bercerita. Ah, lebih baik menipu daripada orang tahu kepengecutan kita.

Lima belas menit sebelumnya

Belum pernah dia menggendong sapi sebelumnya. Bahkan membayangkan pun tidak.
Bulan redup di langit berada di pihaknya. Sinarnya cukup sebagai penerangan bagi dirinya, dan ia merasa aman di bawah temaramnya. Sawah yang terhampar di depannya kini ia harus lalui. Ia memilih tidak lewat pematang, lebih cepat, pikirnya. Jadi dia labrak padi-padi yang sudah sepinggang itu, bagaikan tentara yang potong kompas. Keringatnya bercucuran.
Dalam hatinya bergemuruh berbagai makian yang dia sendiri tak tahu dia tujukan kepada siapa. Punggungnya seperti mau remuk saja. Terbesit di kepalanya untuk menuntun curiannya itu. Tapi perbatasan desa masih sedikit lagi. Terlalu lambat, bisa-bisa tertangkap basah. Dan tenaganya sudah mulai terkuras saat ia lewati sawah itu. Hampir ambruk dia. Begitu akan ambruk ia ingat istrinya, mendadak tenaganya pulih lagi. Rasa panas kembali ia rasa menghangus di hatinya. Sapi berarti uang, uang artinya harga diri, begitu pikirnya.

Sampai tengah sawah ia terkesiap. Dia merasa ada yang mengawasinya. Dua pasang mata mengintainya dari timur, di balik pohon pisang. Dia mempercepat langkahnya. Dan di tekadnya sudah terpaku sebuah rencana, bahwa siapapun yang menghalanginya, dia akan babat habis.
Kali ini dia menoleh. Dua pasang mata mengintai masih. Dan pemilik mata-mata itu terkesiap saat dia menoleh. Mereka tidak menyangka. Wajah menyeramkan itu menoleh, kini matanya lurus memanah mereka. Badan mereka bergetar. Dia tahu dua pasang mata itu memancarkan sinar ketakutan. Tak ada yang perlu di khawatirkan.
Sebentar lagi sampai, pikirnya. Dan sapi ini akan kutuntun.

Sehari sebelumnya

Hati siapa yang tidak terbakar bila istrinya menuduh sebagai pria tak berguna? Itu yang dirasakannya saat ini.
Panas di hatinya bikin napasnya mendengus dan tinjunya terkepal siap terlontar kapan saja. Apa salahnya pengangguran, batinnya. Dan harga dirinya sebagai laki-laki merasa terinjak. Penyet. Hampir saja tadi ia tampar pipi istrinya itu. Demi harga dirinya, yang tak terusik meski tak punya pekerjaan sedang anaknya dua masih kecil-kecil, namun merasa diinjak saat statusnya itu dianalogkan sebagai ketakbergunaan. Memang aku tak berguna, namun jangan sekali-kali kau katakan secara langsung padaku, begitu batinnya.

Dia hidupkan TV. Direbahkan tubuhnya ke kursi. Kalau saja aku punya banyak uang, pikirnya, akan kusumpal mulut wanita itu pakai uang kertas biar bisu. Dan anak-anak itu, akan kubayar buku-buku diktat itu lunas. Dan kusumpal pula mulut guru mereka itu agar jangan menagih-nagih lagi. Semua keinginan itu bikin api di hatinya makin menyala. Makin membakar.
Di televisi seorang anak sedang minum susu. Lalu muncul gambar sapi, rupanya sedang iklan susu. Sapi, itu yang terlintas di kepalanya. Dan matanya terpicing, lambat laun senyumnya merekah. Sebuah rencana telah tersusun dalam otaknya.

“Nak, bilang sama gurumu, esok lusa Bapak akan bayar buku-buku itu. Kontan “, pekiknya.
Anaknya termangu. Heran.
                                                            ***

Malam digetarkan oleh bunyi kentongan yang bertalu ke segenap sudut desa. Semua yang tidur terjaga. Obor-obor keluar rumah. Suasana desa berbalik dari malam yang sepi-sunyi menjadi hiruk pikuk. Beberapa pemuda berselip gobang di pinggang, menderap langkah dengan mata berkilat-kilat ingin membunuh. Nyala obor berkelebatan di antara rumah-rumah penduduk, menyusup di celah-celah dedaunan dan semak belukar.
“ Maling sapi “
“Sapi siapa ?”
“ Pak Haji  “

“ Siapa malingnya ?”
“ Embuh”
Dialog itulalu-lalang diucapkan entah berapa kali dan entah berapa orang.

“Saksi mata kemasukan setan “
Gardu di samping surau penuh orang. Di dalam gardu dua pemuda bersila dengan mulut menganga dan tangan gemetar. Mata mereka melotot. Orang-orang mengerubutinya dengan berbagai pertanyaan, namun dari mulut dua pemuda itu cuma keluar sebuah kalimat.
“ Maling sapi “.

                                        ***