Dia berdasi. Berjalan
tegap dengan langkah panjang, disiram terik siang. Di tangannya tergantung tas
hitam yang berayun seirama dengan langkah sepatunya. Peluh membasahi dahi,
bergulir di wajah, meresap di bajunya. Sepatu kulit yang hitamnya telah pudar
berdebam mengepulkan debu, menginjaki bayangannya sendiri.
Teringat
dia semasa masih di desa. Orang mengenalnya sebagai jago silat. Bila dia
berjalan semua orang yang berpapasan akan menyapanya. Tua, muda, laki-laki atau
perempuan. Yang pria selalu menyapa dengan penuh kekaguman.
Para
perempuan menyapanya dengan sejuta harapan. Namun dia bukanlah pemuda yang
genit. Dia berwibawa. Sikap itulah yang bikin wanita-wanita di desanya semakin
penasaran. Penasaran dan penuh pengharapan.
Namun hidup di
kota
tak seramah yang pernah dibayangkannya.
Hari ini entah sudah berapa jauh dia berjalan. Tak ada yang peduli selain
penjaga perumahan elit yang sering menatapnya dengan tatapan jengkel. Keluar
masuk lorong, perumahan, menyusuri jalan raya, membelok lagi, perumahan lagi.
Titik-titik peluh semakin penuh dan deras meleleh.
Di
depan sebuah rumah dia berhenti. Disekanya wajahnya dengan sapu tangan yang
telah dekil. Dengan langkah ragu dia
menuju pagar.
Ah, paling-paling diusir, gerutunya kesal
dalam hati. Kesal, kenapa aku harus kesal, pikirnya. Dia punya senjata
ampuh untuk membunuh rasa kesal. Mengenang. Ya, mengenang masa lalu yang indah.
“
Malam nanti sudikah engkau temani aku ke pasar malam?”
Napasnya
berhenti sejenak demi mendengar permintaan itu. Matanya berbinar. Pada suatu hari Rusmini mengajaknya, dengan tiba-tiba
pula.
“
Aku mengaji dulu, Rus”
“
Baik, selepas mengaji kau jemput aku, sudikah?” Rusmini merajuk manja.
Dia
tatap mata Rusmini. Sedang jantungnya berdetak kuat-kuat. Dia mengangguk. Selepas mengaji dengan
bersiul-siul dia berjalan ke rumah Rusmini. Berbunga-bunga hatinya waktu
itu.
“
Gunting ini buatan Cina. Bisa memotong apa saja. Tali, kabel dan kawat;
semuanya putus”.
“ Hmm, lain kali saja”
Usai mengucapkan permisi pada pemilik
rumah, dia jalan lagi. Makin lama langkahnya tak secepat sebelumnya. Rasa
haus menggerogoti tenggorokannya. Tapi bagi seorang yang dianggap pendekar
macam dia, rasa haus semacam ini seharusnya bukanlah lawan sepadan. Ditelannya
ludahnya yang lengket. Tapi haus semakin terasa. Di ujung gang dia berbelok. Jalan
raya.
Matahari
bertahta di puncak langit. Berpijar sekejap. Angin menghembus, dasinya melambai.
Peluh jadi pendingin tubuhnya manakala angin membelainya. Saat itu matanya
terpejam. Terasa kenikmatan yang luar biasa. Tapi cuma sekejap. Dia ingat kapan
pernah merasakan kebahagiaan semacam ini. Kadarnya sama, hanya ada yang berbeda.
Kebahagiaan pada suatu malam saat purnama tampil berwibawa di kaki langit, dengan
seorang gadis manja bergayut di lengannya.
“
Ingatkan aku beli martabak buat ibu, mas”, Rusmini berkata manja. Dan malam itu
malam terindah baginya. Berdua menyusuri jalan menuju pasar malam. Disaksikan
malam. Rusmini bercerita banyak sepanjang perjalanan itu. Dalam di relung
batinnya dia berucap, ‘ Gadis ini perempuan terindah yang pernah kutemui
sepanjang umurku’.
Dia
perhatikan wajah Rusmini yang asyik bercerita. Alangkah cantiknya gadis ini,
pikirnya. Dengan sikap dan tutur katanya yang lembut, ditambah lesung pipit
yang terukir saat senyumnya mengembang. Saat Rusmini menoleh barulah dia lempar
wajahnya ke muka. Rusmini cemberut. Tapi senang. Pemuda ini rasanya ada hati
padanya.
“
Gunting ini buatan Cina. Bisa memotong apa saja. Tali, kabel dan kawat;
semuanya putus”.
”
Hmm, saya sudah punya”
Dia
ditelanjangi terik surya. Dan tas hitam yang ditentengnya tak berkurang
beratnya semenjak pagi tadi. Pada langkah kesekian dia meringis. Bekas luka di betis
kanannya terasa nyeri. Pegal di bahunya semakin nyata. Dia pindahkan tas ke
tangan kiri. Kakinya terasa perih. Sepatunya kekecilan. Dia meringis lagi.
Di
bawah pohon dia hentikan langkahnya. Ditariknya napas panjang-panjang sampai
dadanya penuh, lantas dia hembuskan sekuat tenaga. Membetulkan letak dasinya
membuat dia teringat si Jambul. Saat siang hari seperti ini, di desa begitu
nikmat. Biasanya dia ditemani Jambul duduk di bawah pohon nangka di tepi sawah
meniup seruling. Masih hidupkah si Jambul?, pikirnya. Terngiang di telinganya
bunyi gemerincing kalung si Jambul saat sahabatnya itu membajak sawah.
Bila
mentari tergelincir sedikit ke barat, maka itu waktunya dia berlatih silat. Di tanah lapang dekat sumur di belakang
surau dia biasanya berlatih.
“
Ajari aku silat”
“
Perempuan lembut sepertimu tak pantas belajar silat. Menyulam sajalah”
Rusmini
cemberut manis sekali. Dan pemuda yang sedang bertelanjang dada di hadapannya
tersenyum senang penuh harapan.
“
Tunjukkan padaku jurus-jurusmu”, pinta Rusmini. Gadis itu sering menemaninya
saat berlatih. Kalau datang ia membawa sekendi air dingin dan kadang dengan sepiring
pisang goreng.
“
Baiklah, ini jurus empat gelombang”, ujarnya sambil memasang kuda-kuda. Lantas
ia melesat dengan tinju teracung dan meloncat ke samping.
“
Jurus gelombang timur merengkuh “, Sambil teriak dia bergeser ke depan. Kini
jaraknya tinggal tiga langkah dengan Rusmini. Gadis itu terpukau.
“
Merengkuh malam mengejar bidadari “, Dia meloncat ke depan sambil meninju,
tentu saja gadis itu kaget dan memekik.
“
Bidadari tertangkap, cintanya kupetik “, lembut jurus itu diucapkan hampir
berbisik. Serta merta dirangkulnya Rusmini, ditariknya wajah gadis itu hingga
dua wajah bersatu. Rusmini tidak melawan. Jurus terakhir pemuda itu terlalu
indah untuk dilawan. Oh…
“
Gunting ini buatan Cina. Bisa memotong apa saja. Tali, kabel dan kawat;
semuanya putus”.
”
Hmm, kami belum butuh”
Melangkah ia keluar pagar tanpa diantar oleh
yang punya rumah. Rumah itu letaknya persis di depan pohon tempat dia
tadi berteduh. Dia mengaduh pelan. Betis kanannya makin nyeri. Juga mata
kakinya. Tapi tas hitam yang dijinjingnya tak kunjung ringan jua. Matanya
dilemparkan ke sekeliling mencari penjual minuman. Ia kepingin es tebu, atau es
apa sajalah.
“ Bulan depan aku mau cari kerja ke kota
“, kalimat yang loncat dari mulut Rusmini waktu itu bikin dia terbelalak. Rusmini
akan bekerja di
kota
?,
artinya bahwa dia akan merasakan rindu yang dalam, rindu pada gadis yang selama
ini ada kapanpun dia ingin bertemu. Dan tinggallah resah yang dirasakannya
karena tak mungkin dia melarang niat kekasihnya itu.
Dan
tibalah hari itu. Rusmini dibawa pak Kir mencari pekerjaan ke
kota
. Pak Kir adalah warga desa yang kerjanya
membawa orang-orang untuk mengadu nasib di
kota
. Singkatnya dia itu makelar. Tenaga
kerja yang disalurkannya adalah tenaga kasar. Buruh atau pembantu.
“
Gunting ini buatan Cina. Bisa memotong apa saja. Tali, kabel dan kawat;
semuanya putus”.
”
Hmm…, kalau buat penjual tebu kayak saya, buat apa gunting begini, Mas.
“
Pakai pisau, apa-apa mesti putus”
Dia
tersenyum. Betul juga, pikirnya. Pak penjual tebu ini cari uang
kan
susah. Tidak mungkin
ia sisihkan penghasilannya hari ini sekedar buat beli gunting. Biarpun gunting
ini bisa buat potong besi sekalipun. Dia amati penjual tebu itu. Tua, kurus, berpeci.
Kumis dan alisnya sudah putih. Orang tua ini mirip pak Kir, benaknya berkata.
“
Aku bukan seorang gadis lagi, mas”, Rusmini menangis sesenggukan. Jelas dia
kaget. Baru dua minggu Rusmini pergi. Kini gadis itu sudah kembali, dengan
airmata bercucuran pula. Lantas perempuan itu bercerita.
“Sesampainya
di
kota
aku
ditampung di sebuah rumah milik teman pak Kir dekat stasiun. Di tempat itu cuma
aku dan dia. Aku tinggal di
sana
selama tiga hari, selama itu pak Kir mencarikanku majikan.
“ Pak Kir pernah bilang bahwa aku mesti manut
sama dia. Kalau tidak, tak akan ada kerja untukku.
“
Aku harus turut perintahnya. Aku tidak mungkin kembali. Aku malu. Pak Kir
mengancam akan menyebarkan berita bohong bahwa aku tidak laku.
“ Akhirnya pada malam terakhir tidur di
sana, orang tua itu bilang bahwa dia sudah dapat majikan. Lantas dia
memaksaku, katanya itu imbalan atas jasanya”. Rusmini tidak sanggup menyelesaikan
ceritanya. Tangisnya membuncah.
Darah
pendekar sang kekasih mendidih. Dia memekik. Badai amarah yang melanda hatinya
bebas menjulang ke angkasa dibawa gelombang suara. Udara sekitar bergetar. Berlari
dia keluar. Dengan napas memburu dan mata menyala, dia pacu langkahnya menuju
rumah pak Kir. Makelar itu sedang duduk di teras rumahnya sambil menghisap
rokok kretek. Dan belum sempat orang
tua itu berkata sepatah katapun, diterjangnya hingga terpelanting. Dia
tarik kepala pak Kir yang sudah tak berdaya dengan satu tangan. Diseretnya
bagai kambing. Di luar rumah dia tanam bogem mentahnya ke perut makelar itu. Orang
tua itu teriak minta ampun sambil menyembah memegangi kakinya. Tiada sedikitpun
rasa kasihan yang tersirap dari wajahnya, malahan sikutnya berulang-ulang
menghujam keras bagaikan cangkul petani yang diayunkan untuk menggemburkan
tanah cadas yang retak-retak. Lepas itu pak Kir terkapar sunyi, dari hidungnya
darah mengucur. Nanar dan gontai dia pulang ke rumah.
Tak
lama, polisi datang ke rumah menyergapnya. Awalnya dia menurut saja. Namun
ketika salah satu polisi mendorong kepalanya dengan kasar sambil memakinya, dia
jadi gelap mata. Berbalik dia dengan cepat. Ditanduknya hidung polisi itu
hingga roboh. Polisi yang lain mencabut pistol. Melihat itu dia lari. Tapi
pistol itu meletus juga. Dia lari tanpa menengok ke belakang.
Setelah
agak lama terasa betis kanannya perih luar biasa. Sekilas dia melihat darah. Dia
gigit bibir bawahnya. Sambil itu dia terus lari. Peristiwa itu adalah alinea
pertama dari kisah pelariannya.
Sebuah
pelarian yang gagal.
Itu
sudah sepuluh tahun silam. Rentang waktu yang dilewatinya mulai dari pelarian gagal
itu hingga bebas dari kungkungan tembok penjara.
Dia pandangi gunting di tangannya. Gunting itu
masih terbungkus dalam kemasannya. Dia sendiri belum pernah menggunakannya. Entah bisa memotong tali, kabel bahkan kawat,
dia sendiri tak tahu. Dia merasa tak pernah mau tahu. Yang jelas gunting
itulah hidupnya saat ini. Tak laku dijual seharian maka hari itu pula dia akan
kelaparan.
Dia
masukkan gunting itu ke dalam tasnya, di mana beberapa buah yang lain masih
tersimpan. Masing-masing mewakili impiannya. Impian seorang jago silat yang
lalu jadi penghuni penjara dan kini menjadi penjual gunting.
Dipandangnya
sepatu kulit lusuh di kaki, lalu dasi di dadanya. Betapa kejam hidup di
kota
, batinnya. Hidup
tergantung pada gunting.
Dia
merogoh kantung celananya. Es tebu ini mesti dibayar. Hidup masih terus.
TAMAT
Nie cerpen pernah ikut sayembara cerpen Festival Seni Surabaya 2004, tapi kalah seleksi. Yang menyeleksi waktu itu Budi Dharma. Yg lolos seleksi dibuatkan kompilasi.
Yang lolos senior semua. Punya nama. Bukannya iri, tapi banyak karya yg dimuat yg ga berkualitas.
Ya, saya sih tahu diri. Saya akan merasakan kesulitan yg sama kalau berada di posisi pak Budi Dharma.