Archive for March, 2007

KANGEN band; Oh KANGEN BAND!!!

Wednesday, March 28th, 2007

Anda ingin membaca PIKIRAN saya?
Anda ingin MEMBACA sesuatu yg bisa MENG-COUNTER argumen saya????

Eh, LIHAT…..

ADA MONYET MONYET ANTI KANGEN BAND LAGI BACA TULISAN INI!!!!!!

Monyet2 yg ga punya prestasi apa apa selain MENGHINA musisi sesama rakyat kecil.
Ato jangan2 kalian BUKAN RAKYAT KECIL??

Kenapa kalian iri dng SUKSES yg diraih KANGEN BAND???

KALIAN merasa ORTU KALIAN KAYA RAYA, tapi kok ga bisa NGETOP kayak KANGEN band?

Ato kalian merasa PUNYA SKILL tinggi tapi kok ga bisa punya NASIB sebaik KANGEN BAND???

TTD.

Slim Angga
[Owner Kangen Band Fans Club]

Dahlan Iskan; Kok anda diem?

Saturday, March 24th, 2007

Adam Air tergelincir. Badan pesawat bengkok. Tak ada korban jiwa. Namun mengejutkan dan jadi berita hangat, mengingat baru saja maskapai penerbangan itu mengalami kecelakaan tragis di perairan sulawesi.

Sehari pasca tergelincirnya Adam Air, yang menyebabkan badan pesawat jadi melengkung kayak anjing bungkuk, Dahlan Iskan menulis sebuah essai di Jawa Pos. Sebuah essai yang mengagumkan, dan yang pasti menenangkan. Judulnya: SUDAHLAH, SERAHKAN SEMUANYA PADA PILOT. 

Dengan gaya cerdas dan dewasa, beliau mengomentari insiden Adam air tersebut adalah pendaratan yang masih dalam kategori mulus. [Tidak keluar landasan, tanpa korban, hanya pesawatnya yang melengkung pasca pendaratan...Ato sebelum mendarat???]. Beliau menghimbau untuk tidak khawatir terhadap cuaca yang buruk saat penerbangan, goncangan, dsb. karena pesawat dirancang oleh para ahli untuk menghadapi situasi dan kondisi itu. Kita dianjurkan untuk menyerahkannya pada sang PILOT, karena pilotlah yang paling tahu tentang kondisi, resiko, beserta pemecahan masalah selama penerbangan. Okay….Langkah persuasif yang bagus.

Saya lantas jadi ingat sebuah puisi realis karya Emha Ainun Nadjib. Emha bercerita tentang pengalaman naik pesawat. Ketika itu sempat terjadi goncangan, yang mengingatkan beliau pada jalan bergeronjal di kampung halamannya. Sempat2nya Emha mengamati ekspresi para penumpang yang semuanya ketakutan. Dan dalam sajak itu dia berkata, "Semuanya tanpa daya, dipaksa pasrah pada sang pilot, penentu kelangsungan hidup mereka…" Begitu kira-kira, karena saya agak lupa detail sajaknya.

Kembali ke Dahlan Iskan. Berbekal pengalamannya naik pesawat yang entah sudah berapa ratus kali [dan semua penerbangan itu dijalaninya sebagai PENUMPANG], juga mungkin Dahlan pernah membaca buku panduan jadi pilot, ato text book satu-dua bab tentang cara kerja pesawat, Dahlan Iskan dengan lihai memaparkan teori-teori dasar penerbangan. Dahlan menganalisa komentar2 penumpang insiden itu yang masuk ke radio Suara Surabaya, dan juga masyarakat yang numpang rembug di radio itu. Beliau menyortir beberapa komentar tersebut, dan mengatakan bahwa masyarakat mengomentari insiden tergelincirnya Adam Air tersebut dengan analisa berbeda-beda sesuai dengan tingkat dan latar belakang pengetahuannya. Lantas keluarlah analisa Dahlan sendiri, beserta teori-teori, Dahlan meluruskan pendapat2 masyarakat yang menurut dia KURANG TAHU TEORINYA, yang hanya menganalisa lewat nalar saja. Seakan-akan Dahlan Iskan seorang mantan pilot.Ooo..Lebih, pakar penerbangan malah. Padahal nerbangin pesawat aja ga pernah.

Serahkan pada pilot. Selebihnya adalah: Nasib. Itu kalimat penutup essai Dahan Iskan.

Nah….
Beberapa minggu kemudian….

Garuda mendarat dengan atraksi yang fatal. Analisa para ahli [nie ahli penerbangan beneran], kecelakaan terjadi karena HUMAN ERROR. Dengan kata lain….Pilotnya yang lalai.
Cuaca cerah, mesin tidak ada trouble, landasan bersih; Pesawatnya gosong. Berikut penumpang2 yang tidak sempat menyelamatkan diri.

Nasib?
Katanya Dahlan Iskan sih…Selanjutnya tinggal: Nasib.

Jadi Nasib???
Para ahli ga bilang begitu…mereka bilang sang kapten yang lalai.

Oh pak Dahlan… bukan cuma Rocker, Pilot itu juga manusia. Pilot bukan Tuhan. Dia itu cuma dititipi Tuhan buat menjaga keselamatan penumpang. So, nggak bisa orang disuruh pasrah begitu saja sama Pilot. Ga ada bedanya Pilot sama sopir bis LORENA, ato sopir taxi Blue Bird, lha wong sama-sama sopirnya. Masak kalo sopirnya ngawur, penumpang bisa enak-enakan tidur, ya ditegur dong…Kalo perlu dibentak !! Bedanya, pilot ga keliatan dari kursi penumpang, kecuali pas kebelet pipis, pas jalan ke toilet.

Pilot sama kayak sopir ojek, tukang becak, dsb. Dia bisa patah hati. Dia bisa  ga fokus konsentrasinya gara-gara kalah main saham. Dia punya emosi, apalagi kalo cewek yang dia kagumi ternyata malah jatuh cinta sama pria yang notabene sahabatnya sendiri. Pilot itu bisa bingung, bisa nekad, punya stamina terbatas, bisa ngawur. Dia bukan mesin Auto Cad  yang senantiasa presisi.

Kalau mau pasrah. Ya sama Tuhan. Serahkan semuanya pada Tuhan.

Ah, pasca tragedi Garuda, Dahlan Iskan tiada berkomentar. Giliran aku menjerit: Dahlan Iskan; anda kok diem?

Band Indie; Bandung VS Surabaya

Thursday, March 8th, 2007

Sering aku berdiskusi dengan kawan-kawan sesama musisi indie Surabaya. Ada satu tema pembicaraan yang sempat menarik perhatianku untuk menganalisa. ADalah sebuah pendapat:  Musisi Indie  Bandung tuh lebih kompak dari Surabaya. Terbukti dari segarnya iklim  industri musik indie di sana. Dan  band-band indie Bandung lebih maju  ketimbang Surabaya.

Pendapat di atas sudah banyak yang mengatakan. Hampir semua kawan indie mengiyakan  fenomena tersebut. Bahkan banyak juga yang mengatakan, Bandung adalah barometer musik Indie Indonesia, di mana senimannya terkenal dengan idealisme dan keunikan mereka.

Okay, kucoba untuk objektif menyikapi pendapat ini. KAlau anda membaca tulisan ini dan terdapat subjektivitas di dalamnya, saya mohon maaf. Paling tidak sudah ada usaha untuk berpikir objektif.

Saya belum pernah ke Bandung. Tapi anda tak perlu terbang sendiri ke Bulan untuk mempelajari bagaimana di sana, bukan?

Sejak saya SMA, musisi Bandung memang sudah terbiasa memulai sebuah trend musik Indie. Dulu seingat saya, di Surabaya muncul band-band Britpop dengan nama yang dibikin "Ndeso", sebut saja: Sekar Sari, Sri Rejeki, dsb. Nama-nama itu terpengaruh dari band Bandung, salah satu yang terkenal: HARAPAN JAYA. Betul tidak?  Waktu itu band indie di Surabaya yang ke permukaan cuma beberapa, sebut saja: Carnaval, Karpet, Slawe, BlueQuthug, dan semua itu alirannya rock.[Karpet rock alternatif]

Nah, dominasi Bandung berlanjut sampai sekarang. Band-band Bandung dan Jakarta mendominasi panggung-panggung di Surabaya. The Adams, The Sigit, The Brandals, White Shoes and the Couples Company, dsb. Terbukti "menjajah" Surabaya. Coba, mana band indie Surabaya yang pernah diundang main ke pensinya SMA di Bandung ato Jakarta?

Okay, pertanyaannya adalah: Kenapa? ato Kok Bisa?

The Orange, sebuah band Surabaya beraliran Brit Pop mengirim message pada saya, bahwa rahasia kemajuan indie Bandung adalah sikap musisi Bandung yang akur. Menurut anak-anak Orange, musisi Surabaya tuh sifatnya keras sesuai karakter masyarakat Surabaya sendiri. Sering sikut-sikutan, ga unity, kurang sering duduk satu meja dsb.

Cherry, Gitaris band NARRO, sebuah band asal SBy, juga punya pendapat yang sama. Cherry yang anak Jakarta mengatakan bahwa musisi Surabaya yang sudah sukses sering lupa sama kawan-kawannya yang masih tertatih-tatih. Liat aja Noik and Capung Java Jive yang mengangkat Peter Pan, begitu katanya. Dhani Ahmad dianggap sudah lupa sama Sby, karena begitu sukses domisilinya langsung Jakarta. Begitu pula Piyu, dkk.

Menarik juga.

Sekarang mari kita analisa. Saya akan melihat dari beberapa faktor. Kita mulai:

1. Letak Geografis.
Surabaya terletak kira-kira 1000 Km dari Jakarta. Jakarta itu Ibu Kota. Ga usah di bidang musik, bidang-bidang lain di Jakarta lebih "basah". Ingat, 80 persen duit di Indonesia itu muter di Jakarta!!!
Bandung itu deket banget ama Jakarta. Seperti batu jatuh ke  air, kalo pusat gelombangnya Jakarta, Bandung kena gelombang lebih jelas dari Surabaya. Bukankah semakin jauh gelombang makin bias? Jadi Bandung itu secara kondisi perekonomiannya lebih bagus dari Surabaya. Lihat saja, industri kecil di sana bisa hidup. Mulai dari Clothing, percetakan buku, desain grafis, desain interior,dsb.

2. Daya Beli Masyarakat
Ini ga perlu diperdebatkan. Kata angkatan bapak kita, dari dulu Bandung memang daya belinya lebih tinggi.dari Surabaya. Masyarakat Bandung lebih "nggak pelit" karena pendapatan per kapita masyarakatnya lebih tinggi. Masyarakat Bandung lebih intelek.
Coba liat, beberapa stasiun televisi top, rating pemirsanya  tertinggi di Bandung. Jonny SQL, pelawak, pernah bilang kalo dari awal dia sudah tau bahwa nantinya grup SOS akan jadi juara API I. TPI menganakemaskan Bandung, baru Jakarta. Liat saja Siti KDI dari mana? Trus KDI 2, yang menang orang mana? AFI I Indosiar, juara I Medan, Juara II Jkt, IIIbandung. API I  Bandung juara satu, APII juara II. Trus, liat aja Dream Band!!!!!!! Kapan Suroboyo pernah menang?
Liat aja LA Indie Fest kemaren. Surabaya cuma dapet 2 tempat. Itupun aliran musiknya sama dengan indie2 yang ada di Bandung. Lha iyalah, lha wong producernya orang Bandung.
"Ga bisa, mas, Surabaya itu ga diperhitungkan, ga ada untungnya menangin Surabaya…" kata Jonny SQL.

Di Surabaya, sesuatu akan laris manis kalau GRATISAN. Contohnya: Sticker..Coba hamburkan sticker saat kamu manggung, pasti penontonnya bakal rebutan, dibela-belain berantem, lagi.
Toton, seorang milisi Indie Surabaya pernah mengeluh. Betapa dia bikin acara musik selalu ditanggapi dingin ama orang-orang, kalau acara tersebut ditiketin. Terutama kalau acara tersebut kategori kelas ekonomi dengan segmen anak muda. Teman-temannya yang ngakunya "Support Indie" duduk di muka gerbang, minta diperbolehkan masuk secara gratis. "Di Bandung ga ada yang kayak gituan, acara musik selalu diminati masyarakat, cari sponsor juga gampang", begitu katanya.

Nah, sekarang kok banyak musisi indie di Bandung yang sukses?

Soal kualitas mari kita kesampingkan. Ingat, Surabaya kalau dihitung, lebih banyak menelurkan musisi jago kelas nasional. Sebut saja: Dewa, Padi [keduanya mencapai angka penjualan lebih satu juta keping!!] Boomerang, Ari Lasso, Grass Rock [nie saat jaya2nya top banget], belum lagi kalo kita sebut Ucok A.K, Gombloh dkk. Bandung? Riff, Peter Pan, Java Jive…Yang nembus satu juta keping cuma Peter Pan.

Jadi, katakan saja kualitas musisinya samalah. Ga jauh beda.

Jadi apa?
Kalo saya produser di Jakarta, saya lebih suka memproduksi band Bandung. Jaraknya dekat, akomodasi gampang, kalo pemain bandnya melarikan diri nyarinya gampang…dan MASYARAKATNYA SUPPORT karena daya belinya tinggi. Saya jual saja albumnya cuma di Bandung saja, dan  kemungkinan LAKUnya lebih besar!!! Daripada jauh-jauh dari Surabaya. Udah pemain bandnya jauh, ribet ngaturnya, dipasarin di Sby aja belum tentu laku…apalagi di Jakarta…… Kalo mau laku, ya musti promosi ala major label…Gede-gedean. Daripada mempromosikan band Surabaya, mending Bandung. Lebih safe.

Liat saja. Mana ada produser di Surabaya? Kalopun ada, pasti money oriented banget. Lha Laopo aku memproduksi band indie…Dangdut ae ato lagu anak-anak. Dadi Duwek iku!!!

Jadi ya……Begitulah……

Kesimpulanku sederhana: Aku ga percaya tentang persatuan dan kesatuan musisi Bandung yang sering dikatakan orang jadi penyebab krusial segarnya musik indie mereka. Mungkin mereka akur, kenapa tidak…Tapi bukan itu faktornya. Surabaya musisinya memang kepalanya keras-keras, boleh saja…tapi bukan itu juga yang jadi penyebab lesu darahnya dunia indie Surabaya.

Yaaaa……itu analisaku. Bisa salah. Tapi setidaknya yang kupaparkan di atas logis khan?

Indie: Idealis VS Komersil?

Monday, March 5th, 2007

BArusan dapet message dari seorang kawan. Waktu kuberitahu perjuangan berat bandku jualan Cd, dia jawab:

"Udah mulai ngeluh, nih? Pada dasarnya indie itu idealis lawan komersil. KAlau loe punya duit buat bayar idealis ya monggo saja. Kalo mo komersil ya tue musik kudu Up to Date"

Message dari kawanku itu bikin aku merenung. AKu mulai menganalisa [wuih, kayak detektip Conan aja, rek] kata-kata kawanku itu.

Idealisme adalah sesuatu yang dianggap ideal bagi yang menganggapnya. Kalau kamu suka warna merah, maka merah adalah ideal bagi kamu. Kalau kamu bikin tas buat kamu sendiri, pasti warna merah. Karena kamu suka. Kalau tas itu kamu bikin buat dijual, dan masih saja pake warna merah, padahal menurut survai pasarmu warna hijau lebih disukai, maka kamu itu orang yang idealis. Begitulah kira-kira makna kata idealis [jadi inget INIii SEBENARNYAAAA yang di radio]

Kalau komersil itu kebalikannya. Kamu suka warna merah, tapi berhubung hijau lebih diminati pasar, maka kamu memproduksi tas warna hijau buat dijual.

Okay…

Nah, bandku itu idealis. Kamu pasti mengerti kalau sudah pernah denger lagu2nya di radio. Seorang penyiar radio waktu acara indie pernah bilang: "Yaa inilah lagu dari ALvaNofember, band paling beda di acara indie ini", trus lagi pula kawanku yang kirim message itu penyiar juga di radio yang sama.

Seorang produser Jakarta waktu pernah bilang, "Musik kalian unik, alat musiknya juga unik, tapi pasarnya yang tidak ada, yang macam itu musik apresiatif, bukan untuk dijual"

Sekarang analisaku berlanjut.

Aku melakukan analisa komparatif sebagai metode analisaku.

Aku ambil dua sample. Joker band dan Seffy band. Dua-duanya memproduksi lagu-lagu komersil [ga tahu lagi kalau lagu-lagu itu ternyata ideal bagi mereka]. Lagu sama-sama mellow. Kualitas hampir sama, kalau ada perbedaan itu cuma masalah pengalaman. Joker itu pecahannya Flanella. Seffy masih baru.

Kawanku yang bekerja di produser rekaman Jarata setahun dua tahun yang lalu pernah bilang, "Ada band kota Malang yang masuk waiting list di salah satu produser di Jakarta. Namanya MAGNETIC". Trus MAGNETIC ganti nama jadi Joker. Band ini lagunya diputar di hampir semua radio di Surabaya. Kata mereka, lagu mereka sudah tersebar ke radio-radio di  Jawa Timur, Jawa Tengah, sampai Jambi.  Anehnya di Malang Joker tidak terkenal. Dan mereka sampai sekarang belum  berjualan album. Nanti bulan Juni, begitu kata mereka saat interview di radio.

Kawanku musisi pernah bilang kalau strategi semacam Joker pernah dilakukan oleh Flanella. Bedanya, Flanella itu menyerbu  Malang dulu.  Baru kota yang lain.
Aku yakin, begitu Joker merilis albumnya, kasetnya akan laku keras karena orang sudah banyak yang tahu.

Bagaimana dengan Seffy?
Sama seperti AlvaNofember, frekwensi pemutaran lagu di radio sangat jauh dibandingkan Joker. Jangankan kota yang lain, radio di Surabaya saja lagu-lagunya diputar hanya di acara Indie. Beda dengan Joker yang lagunya diputer bareng Ungu, Peter Pan dll. Seffy sudah merilis album. Kurang sukses tampaknya. Finansial tidak mendukung untuk promosi.

Apakah Joker habis banyak buat promosi?
Kamu sudah tahu jawabannya kalau teliti membaca analisaku. Sebagai perumpamaan: pasang iklan di Jawa Pos sebesar kotak rokok lebih kecil dikit, berwarna, itu 18 juta rupiah. Sama seperti koran dan majalah, Radio itu hidupnya dari mana? Ya dari IKLAN. Iklan itu apa sih? Promosi. Kalau  sebuah band ingin kasetnya laku, dia datang ke sebuah radio  dan minta agar lakunya sering diputar. Apa imbal baliknya bagi radio? Pasti ada kan…

Artinya. Jualan kaset itu sama saja dengan jualan-jualan yang lain. Kalau urusan beginian, tanya sama pakar ekonomi. jangan pakar musik.

Lagu adalah barang konsumsi. Semakin sering diperdengarkan, maka semakin akrab di telinga. Sama kayak rokok. Promosi rokok bertujuan mempersilahkan orang mencicipi rokoknya. Sekali, dua kali, tiga kali, rokok yang tadinya ga enak, karena bibir kita sudah beradaptasi, maka rokok itu jadi enak.

Nah.

Jadi kesimpulanku adalah:

Idealisme-komersialisme musisi dalam musikalitas bukan merupakan variabel signifikan dalam proses penjualan album. Mau idealis kek, mau komersial ke, kalau strategi pemasarannya bagus, ya laku. Trend itu bisa diciptakan. Biarpun pasar ga butuh, kalau produsennya pinter, dia bisa bikin pasar jadi butuh, paling tidak ya merasa butuh.

Ingin aku mengirim tulisan ini ke kawanku itu. Tapi untuk apa. Biarlah masing-masing orang punya pendapat. Perbedaan kan ada karena ada perbedaan yang lain. Keadaan beda, ya strategi beda; Beda tingkat pendidikan, ya lain pemahamannya; Beda nasib, ya beda pikiran; Beda bacaannya, ya lain pengetahuannya….Pokoknya gitulah.

[Angga Drives Alone]

pertanyaan paling sering ditujukan padaku

Sunday, March 4th, 2007

Adakah kamu menjawab pertanyaan dengan kebohongan, padahal pertanyaan itu justru paling sering ditanyakan orang?

Aku punya pertanyaan yang malas kujawab jujur. Pertanyaan itu adalah: KENAPA DULU KAMU CABUT DARI APPLES IN THE WONDERLAND [AIW]?

Bagi mereka yang lama berteman dengan aku, pasti tahu. Grup musik AIW adalah  band yang aku bentuk bersama teman-teman SMA dan satu kawan kuliah.  Kami dulu berjuang benar-benar dari bawah, manggung  dari  pentas kampung  ala 17an sampai  tampil di night club  tempat om-om kongkow-kongkow sama purel usia belasan.

Bahkan tambahan kata In THE WONDERLAND itu aku yang bikin. Saat itu namanya masih the Apples, sampai kemudian Jan Juhana dari SONY musik meminta kami untuk merubah nama karena waktu itu akan ada grup Apel dari Bandung yang akan diorbitkan oleh beliau.

4 tahun aku bersama Apples In the Wonderland, sampai aku memutuskan untuk cabut.

Nah sekarang kutulis dengan jujur.  Alasan sebenarnya mengapa aku cabut. Bagi kamu yang membaca tulisan ini, kalau ketemu aku jangan dibahas, okay…

AIW itu awalnya beraliran retro. Tahun 2000-an awal, baru NAIF band terkenal yang sealiran. Faktor produser jadi variabel yang menentukan perjalanan AIW. Permintaan untuk merubah arransemen, penambahan lagu, menyebabkan AIW seakan kebingungan menentukan karakter. Dulu musik AIW tergolong sangat unik. Maklum pada saat itu Indonesia masih kena arus Linkin Park dan Limp Bizkit. Aku nyaman banget di AIW karena menganggap grup ini idealis dan ga mau ikut arus. Sebelum akhirnya muncul MOCCA yang genre musiknya mendekati musik AIW.

Akhirnya musik AIW bergeser sedikit Brit Pop. Masih idealis. Dan waktu itu aku dan kawan-kawan berjuang untuk mengaransemen lagu seunik mungkin. Percaya atau tidak, demo lagu-lagu AiW yang dulu itu unik banget. Kalau diperdengarkan sekarang, masih tetap unik. Music Directornya saja YUDHA gitaris ROMEO, sama Erwin DEWA19. Musik AiW nyentrik banget, beda sama yang sekarang.

Nah, aku merasa gagal. Itu ketika dari Barat masuk musik GARRAGE. The Strokes, The Vines, JET, the HIVES dsb. AKu merasa kecolongan. Kenapa ga dari dulu Aiw bikin yang begituan, kenapa kalah cepat?

Rupanya 2 gitaris Aiw, karena basic musicnya memang Rock N Roll, mulai terpengaruh sama musik Garrage. Lagu-lagu Aiw dirubah jadi kayak the Strokes.

Mulai timbul muak dari dalam hatiku.

Waktu JET booming, aku prediksikan bahwa GARRAGE akan jadi trend di Indonesia. Sperti SKA di tahun 97. Ga lama Muncul The BRANDALS, The Sastro, dan the-the-the yang lainnya. Band-band Indonesia yang notabene jiwanya itu jiwa budak [ingat, kita dijajah Belanda 350 tahun] menyambut GARRAGE dengan penyerahan diri bulat-bulat, persis pelacur. Musisi2 kita itu ga punya kepribadian. Ga ada Jatidiri.

Coba saja lihat tatanan rambut, fashion, attitude musisi Indonesia sekarang. Sok Rock N Roll semuanya [sama kayak SKA waktu lagi booming]. Padahal skill bermain musiknya ga berkelas.

Nah, sama juga kayak AiW. Ternyata kawan-kawanku ga bisa mempertahankan jatidiri sebagai seniman yang kukuh pada orisinalitas.
"Paling tidak, dengan trend garrage di Indonesia, kita jadi tahu bahwa masyarakat menyambut baik musik Garrage" kata seorang personilnya. Sebuah teori yang nggak aku banget. Sama sekali bukan prinsip seorang trend-setter.

Sementara pada saat yang bersamaan, produser-produser di Jakarta mulai kehilangan respek. Terutama karena kualitas vokal yang belum memenuhi kriteria layak jual. Beberapa investor yang tadinya sangat tertarik mulai malas. Lagi-lagi karena aku dan kawan-kawan tidak mampu mengakali kualitas vokal.

Kuliahku Berantakan, personil AiW yang kuliah pada berantakan studinya. Aku kena SP dari Rektor. Gitarisnya cuti sampai setahun karena stress. Gitaris yang satu lagi sampai saat ini skripsi ga selesai-selesai.

Aku yang usianya paling muda dalam Aplles in the Wonderland akhirnya jadi malas. Apalagi kalau waktu itu aku menyadari bahwa kawan-kawanku sudah menginjak usia 25-26-27….Ga ada masa depan. Buat apa aku bertahan pada grup yang tidak lagi tegak pada idealismenya?, sementara usia personilnya sudah berada pada titik maksimal artis recording debutan [usia maksimal artis SONY MUSIC yang debutan adalah 25 tahun]

Waktu aku diskusikan dengan kawan-kawan, aku mengusulkan untuk mengganti vokalis dan menambah personil yakni pemain piano dan biola.
"Wahm kalau gitu nanti pembagian hasilnya semakin sedikit kita dapetnya.." kata gitarisnya. Kalimat itu bikin aku mantap untuk hengkang dari AiW. Itu kalimat pedagang, bukan pikiran musisi sejati.

Aku cabut.

Beberapa bulan setelah aku cabut, sebagai tanggung jawab, aku menawarkan  seorang vokalis untuk diaudisi jadi vokalis Aiw. Novan namanya.

Novan menyanyikan lagu-lagu Aiw yang baru saat audisi.
"Novan itu lumayan, sayang penampilannya kayak gitu. Yaaaa, kita ga sreg saja.." kata salah satu gitarisnya.[Memang  ada kawan yang menganggap bahwa Novan pantesnya nyanyi di Bis Kota]

Okay…
Setengah tahun kemudian, setelah aku lulus kuliah, aku ngeband lagi. Aku ajak Novan sama Ego [adik kandungku].
Bertiga kami berkarya. Lantas ketambahan keyboard. Mulai bikin lagu dan direkam secara live pakai handycam

Pasca kutunjukkan hasil rekamanku, Gitaris Aiw trus bilang kepadaku, "Novan itu buagussss, Angga, kamu tuh serius bikin Alva Nofember? Maksudku kalau kamu main-main, biarlah Novan jadi vokalis Aiw"

Ha..ha… Lagi-lagi idealisme yang runtuh…..

Kukirim demo liveku ke radio. Bersaing kami di chart radio. Sampai saat ini. Tidak kutulis di sini bagaimana hasilnya. Nggak etis.

Jadi itulah alasannya.

Selama ini kalau ditanya, "Angga, kenapa sih cabut dari APples?"

"Waktu itu aku Skripsi"
"Setelah lulus kok ga balik"
"Aku bosen ngeband"
"Kok sekarang ngeband"
"Iseng-iseng aja, buat refreshing"

Surat untuk G.M.

Thursday, March 1st, 2007

Gajah Mada, benarkah kau pernah menyatukan nusantara ini?
Apa yang kau maksud dengan ‘Nusantara’? Samakah dengan pengertian yang kudapatkan di buku-buku sejarah penuh kebohongan yang terdoktrin dalam otak SD ku?

Pernah kulihat benteng Turki di tepian selat Bosporous. Berdiri perkasa membentengi kota Istanbul sepanjang selat. Kulihat pula istana raja Sulaiman. Dia itu Fatih sang penakluk, yang kabarnya pernah menjadikan Turki sebagai negara Adidaya di abad 13, di mana jajahanya meliputi Eropa. Di TV kulihat Tembok Cina, sebuah dinding yang katanya Amstrong tampak dari Bulan. Sebuah tembok yang dibangun untuk menghindari musuh.

Ada pula Al Aqsa, mesjid di Yerusalem, berikut istana-istana peninggalan raja-rajanya yang hingga kini jadi bukti sejarah yang menggelontor banyak nyawa. Yang bikin  orang Muslim, Nasrani dan yahudi jadi rebutan.

Kubaca tentang Mohenjondaro dan Harappa, reruntuhan kota di India yg merupakan bukti kunonya kebudayaan manusia di India. Di Iraq ada kebudayaan tepi sungai Tigris. Yang meninggalkan keajaiban, sebuah tanda sayang seorang Raja pada Permaisurinya, sebuah taman tergantung di Babylonia lama [Iraq].

Semuanya di tepi LAUT. Ato sungai kalau negara itu letaknya jauh dari laut seperti Babylonia[Iraq] dan Persia [Iran]. Atau kalau di Gurun seperti Cina, setidaknya mereka akan bikin benteng sebagai pertahanan dari serangan musuh.

Gajah Mada…
Ada apa Hayam Wuruk membangun pusat kota di Mojokerto, sebagai pusat kebudayaan Majapahit yang besar?
Kalau Hayam Wuruk, rajamu itu, adalah raja yang cerdas [menyatukan nusantara butuh raja yang cerdas, patih!!!], maka pusat kota seharusnya di tepi laut. Kenapa tidak di Surabaya? Ada apa bukan di Tuban?  Bukankah perairan itu media transportasi yg digunakan pada jaman itu? Atau mungkin kau sudah punya CV yang bisa bikin jalan aspal. Atau mungkin jaman itu insinyur-insinyurmu sudah mampu bikin helikopter?, yang bisa menelusup ke pedalaman hingga parkir di trowulan yang letaknya di tengah hutan…

Itukah peninggalanmu, 7 buah candi yg tersusun yang bernama Trowulan?
Trowulan itukah istanamu, seperi yang diduga oleh orang-orang?

Ataukah kalian cuma bisa meninggalkan prasasti?

Oh, mungkin sudah runtuh kena gempa….
Tapi kita punya satelit, oh Gajah Mada, yang bisa memotret menembus lapisan tanah, dan tak tampak reruntuhan itu.

Gajah Mada,
Bukti-bukti peninggalanmu tak cukup otentik buat bikin aku percaya. Istana kerajaan Aceh berikut pelabuhan tuanya, dan mesjid peninggalannya yang masih kokoh dihempas tsunami, justru bikin aku percaya. Bahwa Kerajaan Aceh pernah berjaya. Bahwa Pelabuhan Aceh dulu adalah pelabuhan internasional yang strategis bagi pedagang-pedagang Arab maupun Cina-cina pedagang sutra.

Pantas saja kalau mereka juga tak percaya, bahwa mereka pernah dikuasai oleh kerajaan dari Jawa. Hingga mereka ingin merdeka.

Malaka yang katanya juga pernah kau kuasai, he Gajah Mada….Tanya saja sama mereka orang Malaysia. Mereka punya sejarah sendiri. Menurut mereka, kau dan bala tentaramu tak pernah menang….

Majapahit…Jangan-jangan kau cuma kecamatan kecil, sebuah kampung yang isinya masyarakat baik-baik pemuja berhala. Yang tak pernah menyangka bahwa kelak bangsamu akan dikenang….digunakan Muhammad Yamin sebagai NATION BUILDING, agar bangsa Indonesia bisa bangga akan sejarah bangsanya. Biar bangsa Indonesia bisa tetap bangga karena setidaknya kalau pernah di bodoh-bodohin sama Belanda sampai 350 tahun [lebihkah??? atau kurang??] dan  sekarang jadi bangsa BABU [pengekspor TKI], dulu pernah jadi penguasa besar dan bangsa yang disegani.

Tapi sayangnya cuma masyarakat Jawa saja yang mengakui. [orang Sumatra dan Aceh tidak mengakui...Coba saja tanya kalau tidak percaya]