Band Indie; Bandung VS Surabaya

Sering aku berdiskusi dengan kawan-kawan sesama musisi indie Surabaya. Ada satu tema pembicaraan yang sempat menarik perhatianku untuk menganalisa. ADalah sebuah pendapat:  Musisi Indie  Bandung tuh lebih kompak dari Surabaya. Terbukti dari segarnya iklim  industri musik indie di sana. Dan  band-band indie Bandung lebih maju  ketimbang Surabaya.

Pendapat di atas sudah banyak yang mengatakan. Hampir semua kawan indie mengiyakan  fenomena tersebut. Bahkan banyak juga yang mengatakan, Bandung adalah barometer musik Indie Indonesia, di mana senimannya terkenal dengan idealisme dan keunikan mereka.

Okay, kucoba untuk objektif menyikapi pendapat ini. KAlau anda membaca tulisan ini dan terdapat subjektivitas di dalamnya, saya mohon maaf. Paling tidak sudah ada usaha untuk berpikir objektif.

Saya belum pernah ke Bandung. Tapi anda tak perlu terbang sendiri ke Bulan untuk mempelajari bagaimana di sana, bukan?

Sejak saya SMA, musisi Bandung memang sudah terbiasa memulai sebuah trend musik Indie. Dulu seingat saya, di Surabaya muncul band-band Britpop dengan nama yang dibikin "Ndeso", sebut saja: Sekar Sari, Sri Rejeki, dsb. Nama-nama itu terpengaruh dari band Bandung, salah satu yang terkenal: HARAPAN JAYA. Betul tidak?  Waktu itu band indie di Surabaya yang ke permukaan cuma beberapa, sebut saja: Carnaval, Karpet, Slawe, BlueQuthug, dan semua itu alirannya rock.[Karpet rock alternatif]

Nah, dominasi Bandung berlanjut sampai sekarang. Band-band Bandung dan Jakarta mendominasi panggung-panggung di Surabaya. The Adams, The Sigit, The Brandals, White Shoes and the Couples Company, dsb. Terbukti "menjajah" Surabaya. Coba, mana band indie Surabaya yang pernah diundang main ke pensinya SMA di Bandung ato Jakarta?

Okay, pertanyaannya adalah: Kenapa? ato Kok Bisa?

The Orange, sebuah band Surabaya beraliran Brit Pop mengirim message pada saya, bahwa rahasia kemajuan indie Bandung adalah sikap musisi Bandung yang akur. Menurut anak-anak Orange, musisi Surabaya tuh sifatnya keras sesuai karakter masyarakat Surabaya sendiri. Sering sikut-sikutan, ga unity, kurang sering duduk satu meja dsb.

Cherry, Gitaris band NARRO, sebuah band asal SBy, juga punya pendapat yang sama. Cherry yang anak Jakarta mengatakan bahwa musisi Surabaya yang sudah sukses sering lupa sama kawan-kawannya yang masih tertatih-tatih. Liat aja Noik and Capung Java Jive yang mengangkat Peter Pan, begitu katanya. Dhani Ahmad dianggap sudah lupa sama Sby, karena begitu sukses domisilinya langsung Jakarta. Begitu pula Piyu, dkk.

Menarik juga.

Sekarang mari kita analisa. Saya akan melihat dari beberapa faktor. Kita mulai:

1. Letak Geografis.
Surabaya terletak kira-kira 1000 Km dari Jakarta. Jakarta itu Ibu Kota. Ga usah di bidang musik, bidang-bidang lain di Jakarta lebih "basah". Ingat, 80 persen duit di Indonesia itu muter di Jakarta!!!
Bandung itu deket banget ama Jakarta. Seperti batu jatuh ke  air, kalo pusat gelombangnya Jakarta, Bandung kena gelombang lebih jelas dari Surabaya. Bukankah semakin jauh gelombang makin bias? Jadi Bandung itu secara kondisi perekonomiannya lebih bagus dari Surabaya. Lihat saja, industri kecil di sana bisa hidup. Mulai dari Clothing, percetakan buku, desain grafis, desain interior,dsb.

2. Daya Beli Masyarakat
Ini ga perlu diperdebatkan. Kata angkatan bapak kita, dari dulu Bandung memang daya belinya lebih tinggi.dari Surabaya. Masyarakat Bandung lebih "nggak pelit" karena pendapatan per kapita masyarakatnya lebih tinggi. Masyarakat Bandung lebih intelek.
Coba liat, beberapa stasiun televisi top, rating pemirsanya  tertinggi di Bandung. Jonny SQL, pelawak, pernah bilang kalo dari awal dia sudah tau bahwa nantinya grup SOS akan jadi juara API I. TPI menganakemaskan Bandung, baru Jakarta. Liat saja Siti KDI dari mana? Trus KDI 2, yang menang orang mana? AFI I Indosiar, juara I Medan, Juara II Jkt, IIIbandung. API I  Bandung juara satu, APII juara II. Trus, liat aja Dream Band!!!!!!! Kapan Suroboyo pernah menang?
Liat aja LA Indie Fest kemaren. Surabaya cuma dapet 2 tempat. Itupun aliran musiknya sama dengan indie2 yang ada di Bandung. Lha iyalah, lha wong producernya orang Bandung.
"Ga bisa, mas, Surabaya itu ga diperhitungkan, ga ada untungnya menangin Surabaya…" kata Jonny SQL.

Di Surabaya, sesuatu akan laris manis kalau GRATISAN. Contohnya: Sticker..Coba hamburkan sticker saat kamu manggung, pasti penontonnya bakal rebutan, dibela-belain berantem, lagi.
Toton, seorang milisi Indie Surabaya pernah mengeluh. Betapa dia bikin acara musik selalu ditanggapi dingin ama orang-orang, kalau acara tersebut ditiketin. Terutama kalau acara tersebut kategori kelas ekonomi dengan segmen anak muda. Teman-temannya yang ngakunya "Support Indie" duduk di muka gerbang, minta diperbolehkan masuk secara gratis. "Di Bandung ga ada yang kayak gituan, acara musik selalu diminati masyarakat, cari sponsor juga gampang", begitu katanya.

Nah, sekarang kok banyak musisi indie di Bandung yang sukses?

Soal kualitas mari kita kesampingkan. Ingat, Surabaya kalau dihitung, lebih banyak menelurkan musisi jago kelas nasional. Sebut saja: Dewa, Padi [keduanya mencapai angka penjualan lebih satu juta keping!!] Boomerang, Ari Lasso, Grass Rock [nie saat jaya2nya top banget], belum lagi kalo kita sebut Ucok A.K, Gombloh dkk. Bandung? Riff, Peter Pan, Java Jive…Yang nembus satu juta keping cuma Peter Pan.

Jadi, katakan saja kualitas musisinya samalah. Ga jauh beda.

Jadi apa?
Kalo saya produser di Jakarta, saya lebih suka memproduksi band Bandung. Jaraknya dekat, akomodasi gampang, kalo pemain bandnya melarikan diri nyarinya gampang…dan MASYARAKATNYA SUPPORT karena daya belinya tinggi. Saya jual saja albumnya cuma di Bandung saja, dan  kemungkinan LAKUnya lebih besar!!! Daripada jauh-jauh dari Surabaya. Udah pemain bandnya jauh, ribet ngaturnya, dipasarin di Sby aja belum tentu laku…apalagi di Jakarta…… Kalo mau laku, ya musti promosi ala major label…Gede-gedean. Daripada mempromosikan band Surabaya, mending Bandung. Lebih safe.

Liat saja. Mana ada produser di Surabaya? Kalopun ada, pasti money oriented banget. Lha Laopo aku memproduksi band indie…Dangdut ae ato lagu anak-anak. Dadi Duwek iku!!!

Jadi ya……Begitulah……

Kesimpulanku sederhana: Aku ga percaya tentang persatuan dan kesatuan musisi Bandung yang sering dikatakan orang jadi penyebab krusial segarnya musik indie mereka. Mungkin mereka akur, kenapa tidak…Tapi bukan itu faktornya. Surabaya musisinya memang kepalanya keras-keras, boleh saja…tapi bukan itu juga yang jadi penyebab lesu darahnya dunia indie Surabaya.

Yaaaa……itu analisaku. Bisa salah. Tapi setidaknya yang kupaparkan di atas logis khan?

3 Responses to “Band Indie; Bandung VS Surabaya”

  1. joseph Says:

    ya kalo mau dirunut ke belakang dan dicari salahnya dimana ngga akan pernah selesai.

    yang jelas kita harus cinta surabaya. dan gak usah noleh2 lagi, pengen jadi seperti apa, ato gimana lah.

    menurutku, yang penting ke depannya gmn, berpikir positif dan maju aja. ga ada gunanya mencaci scene sendiri dan memuja scene kota lain.

    begitulah yang saya terapkan di band kecilku asal sby asli, vox.

    terimakasih.

    ps : saya menulis ini di hari dimana pagi saya berada di sby, sore di jkt, dan malem nya udah di bandung. jarak ngga terlalu masalah kok actually.

  2. AnDrICuTek Says:

    gue setuju banget intinya di surabaya maupun di indonesia band adalah hobi yang dijadiin bisnis so jika loe pnegen terpopuler aza dulu loe harus rogoh gojekk ratusan juta jika loe penegn dapat duit loe harus rogoh gojek miliarran rupiahh…..

  3. poel Says:

    gue setuju bnget karena slain ngembangin musik indie indonesia juga bsa menjalin persahabatan d engan musik indie lain,yahhhh!kalo bsa gabung ma msik indie negara lain!!!!!!heeeeeee!!!!!

Leave a Reply