Dahlan Iskan; Kok anda diem?

Adam Air tergelincir. Badan pesawat bengkok. Tak ada korban jiwa. Namun mengejutkan dan jadi berita hangat, mengingat baru saja maskapai penerbangan itu mengalami kecelakaan tragis di perairan sulawesi.

Sehari pasca tergelincirnya Adam Air, yang menyebabkan badan pesawat jadi melengkung kayak anjing bungkuk, Dahlan Iskan menulis sebuah essai di Jawa Pos. Sebuah essai yang mengagumkan, dan yang pasti menenangkan. Judulnya: SUDAHLAH, SERAHKAN SEMUANYA PADA PILOT. 

Dengan gaya cerdas dan dewasa, beliau mengomentari insiden Adam air tersebut adalah pendaratan yang masih dalam kategori mulus. [Tidak keluar landasan, tanpa korban, hanya pesawatnya yang melengkung pasca pendaratan...Ato sebelum mendarat???]. Beliau menghimbau untuk tidak khawatir terhadap cuaca yang buruk saat penerbangan, goncangan, dsb. karena pesawat dirancang oleh para ahli untuk menghadapi situasi dan kondisi itu. Kita dianjurkan untuk menyerahkannya pada sang PILOT, karena pilotlah yang paling tahu tentang kondisi, resiko, beserta pemecahan masalah selama penerbangan. Okay….Langkah persuasif yang bagus.

Saya lantas jadi ingat sebuah puisi realis karya Emha Ainun Nadjib. Emha bercerita tentang pengalaman naik pesawat. Ketika itu sempat terjadi goncangan, yang mengingatkan beliau pada jalan bergeronjal di kampung halamannya. Sempat2nya Emha mengamati ekspresi para penumpang yang semuanya ketakutan. Dan dalam sajak itu dia berkata, "Semuanya tanpa daya, dipaksa pasrah pada sang pilot, penentu kelangsungan hidup mereka…" Begitu kira-kira, karena saya agak lupa detail sajaknya.

Kembali ke Dahlan Iskan. Berbekal pengalamannya naik pesawat yang entah sudah berapa ratus kali [dan semua penerbangan itu dijalaninya sebagai PENUMPANG], juga mungkin Dahlan pernah membaca buku panduan jadi pilot, ato text book satu-dua bab tentang cara kerja pesawat, Dahlan Iskan dengan lihai memaparkan teori-teori dasar penerbangan. Dahlan menganalisa komentar2 penumpang insiden itu yang masuk ke radio Suara Surabaya, dan juga masyarakat yang numpang rembug di radio itu. Beliau menyortir beberapa komentar tersebut, dan mengatakan bahwa masyarakat mengomentari insiden tergelincirnya Adam Air tersebut dengan analisa berbeda-beda sesuai dengan tingkat dan latar belakang pengetahuannya. Lantas keluarlah analisa Dahlan sendiri, beserta teori-teori, Dahlan meluruskan pendapat2 masyarakat yang menurut dia KURANG TAHU TEORINYA, yang hanya menganalisa lewat nalar saja. Seakan-akan Dahlan Iskan seorang mantan pilot.Ooo..Lebih, pakar penerbangan malah. Padahal nerbangin pesawat aja ga pernah.

Serahkan pada pilot. Selebihnya adalah: Nasib. Itu kalimat penutup essai Dahan Iskan.

Nah….
Beberapa minggu kemudian….

Garuda mendarat dengan atraksi yang fatal. Analisa para ahli [nie ahli penerbangan beneran], kecelakaan terjadi karena HUMAN ERROR. Dengan kata lain….Pilotnya yang lalai.
Cuaca cerah, mesin tidak ada trouble, landasan bersih; Pesawatnya gosong. Berikut penumpang2 yang tidak sempat menyelamatkan diri.

Nasib?
Katanya Dahlan Iskan sih…Selanjutnya tinggal: Nasib.

Jadi Nasib???
Para ahli ga bilang begitu…mereka bilang sang kapten yang lalai.

Oh pak Dahlan… bukan cuma Rocker, Pilot itu juga manusia. Pilot bukan Tuhan. Dia itu cuma dititipi Tuhan buat menjaga keselamatan penumpang. So, nggak bisa orang disuruh pasrah begitu saja sama Pilot. Ga ada bedanya Pilot sama sopir bis LORENA, ato sopir taxi Blue Bird, lha wong sama-sama sopirnya. Masak kalo sopirnya ngawur, penumpang bisa enak-enakan tidur, ya ditegur dong…Kalo perlu dibentak !! Bedanya, pilot ga keliatan dari kursi penumpang, kecuali pas kebelet pipis, pas jalan ke toilet.

Pilot sama kayak sopir ojek, tukang becak, dsb. Dia bisa patah hati. Dia bisa  ga fokus konsentrasinya gara-gara kalah main saham. Dia punya emosi, apalagi kalo cewek yang dia kagumi ternyata malah jatuh cinta sama pria yang notabene sahabatnya sendiri. Pilot itu bisa bingung, bisa nekad, punya stamina terbatas, bisa ngawur. Dia bukan mesin Auto Cad  yang senantiasa presisi.

Kalau mau pasrah. Ya sama Tuhan. Serahkan semuanya pada Tuhan.

Ah, pasca tragedi Garuda, Dahlan Iskan tiada berkomentar. Giliran aku menjerit: Dahlan Iskan; anda kok diem?

3 Responses to “Dahlan Iskan; Kok anda diem?”

  1. adikarna Says:

    om gw termasuk salah satu korban dari Garuda…maskapai kita memang hancur bos! kalo diceritain detailnya panjang…

    semua udah enggak ada yang aman!

  2. joseph Says:

    yah..
    selain itu media kita juga bobrok bos.

  3. vaness Says:

    sombong lu kalo aku ke warnet gak mau turun

Leave a Reply