Indie: Idealis VS Komersil?

BArusan dapet message dari seorang kawan. Waktu kuberitahu perjuangan berat bandku jualan Cd, dia jawab:

"Udah mulai ngeluh, nih? Pada dasarnya indie itu idealis lawan komersil. KAlau loe punya duit buat bayar idealis ya monggo saja. Kalo mo komersil ya tue musik kudu Up to Date"

Message dari kawanku itu bikin aku merenung. AKu mulai menganalisa [wuih, kayak detektip Conan aja, rek] kata-kata kawanku itu.

Idealisme adalah sesuatu yang dianggap ideal bagi yang menganggapnya. Kalau kamu suka warna merah, maka merah adalah ideal bagi kamu. Kalau kamu bikin tas buat kamu sendiri, pasti warna merah. Karena kamu suka. Kalau tas itu kamu bikin buat dijual, dan masih saja pake warna merah, padahal menurut survai pasarmu warna hijau lebih disukai, maka kamu itu orang yang idealis. Begitulah kira-kira makna kata idealis [jadi inget INIii SEBENARNYAAAA yang di radio]

Kalau komersil itu kebalikannya. Kamu suka warna merah, tapi berhubung hijau lebih diminati pasar, maka kamu memproduksi tas warna hijau buat dijual.

Okay…

Nah, bandku itu idealis. Kamu pasti mengerti kalau sudah pernah denger lagu2nya di radio. Seorang penyiar radio waktu acara indie pernah bilang: "Yaa inilah lagu dari ALvaNofember, band paling beda di acara indie ini", trus lagi pula kawanku yang kirim message itu penyiar juga di radio yang sama.

Seorang produser Jakarta waktu pernah bilang, "Musik kalian unik, alat musiknya juga unik, tapi pasarnya yang tidak ada, yang macam itu musik apresiatif, bukan untuk dijual"

Sekarang analisaku berlanjut.

Aku melakukan analisa komparatif sebagai metode analisaku.

Aku ambil dua sample. Joker band dan Seffy band. Dua-duanya memproduksi lagu-lagu komersil [ga tahu lagi kalau lagu-lagu itu ternyata ideal bagi mereka]. Lagu sama-sama mellow. Kualitas hampir sama, kalau ada perbedaan itu cuma masalah pengalaman. Joker itu pecahannya Flanella. Seffy masih baru.

Kawanku yang bekerja di produser rekaman Jarata setahun dua tahun yang lalu pernah bilang, "Ada band kota Malang yang masuk waiting list di salah satu produser di Jakarta. Namanya MAGNETIC". Trus MAGNETIC ganti nama jadi Joker. Band ini lagunya diputar di hampir semua radio di Surabaya. Kata mereka, lagu mereka sudah tersebar ke radio-radio di  Jawa Timur, Jawa Tengah, sampai Jambi.  Anehnya di Malang Joker tidak terkenal. Dan mereka sampai sekarang belum  berjualan album. Nanti bulan Juni, begitu kata mereka saat interview di radio.

Kawanku musisi pernah bilang kalau strategi semacam Joker pernah dilakukan oleh Flanella. Bedanya, Flanella itu menyerbu  Malang dulu.  Baru kota yang lain.
Aku yakin, begitu Joker merilis albumnya, kasetnya akan laku keras karena orang sudah banyak yang tahu.

Bagaimana dengan Seffy?
Sama seperti AlvaNofember, frekwensi pemutaran lagu di radio sangat jauh dibandingkan Joker. Jangankan kota yang lain, radio di Surabaya saja lagu-lagunya diputar hanya di acara Indie. Beda dengan Joker yang lagunya diputer bareng Ungu, Peter Pan dll. Seffy sudah merilis album. Kurang sukses tampaknya. Finansial tidak mendukung untuk promosi.

Apakah Joker habis banyak buat promosi?
Kamu sudah tahu jawabannya kalau teliti membaca analisaku. Sebagai perumpamaan: pasang iklan di Jawa Pos sebesar kotak rokok lebih kecil dikit, berwarna, itu 18 juta rupiah. Sama seperti koran dan majalah, Radio itu hidupnya dari mana? Ya dari IKLAN. Iklan itu apa sih? Promosi. Kalau  sebuah band ingin kasetnya laku, dia datang ke sebuah radio  dan minta agar lakunya sering diputar. Apa imbal baliknya bagi radio? Pasti ada kan…

Artinya. Jualan kaset itu sama saja dengan jualan-jualan yang lain. Kalau urusan beginian, tanya sama pakar ekonomi. jangan pakar musik.

Lagu adalah barang konsumsi. Semakin sering diperdengarkan, maka semakin akrab di telinga. Sama kayak rokok. Promosi rokok bertujuan mempersilahkan orang mencicipi rokoknya. Sekali, dua kali, tiga kali, rokok yang tadinya ga enak, karena bibir kita sudah beradaptasi, maka rokok itu jadi enak.

Nah.

Jadi kesimpulanku adalah:

Idealisme-komersialisme musisi dalam musikalitas bukan merupakan variabel signifikan dalam proses penjualan album. Mau idealis kek, mau komersial ke, kalau strategi pemasarannya bagus, ya laku. Trend itu bisa diciptakan. Biarpun pasar ga butuh, kalau produsennya pinter, dia bisa bikin pasar jadi butuh, paling tidak ya merasa butuh.

Ingin aku mengirim tulisan ini ke kawanku itu. Tapi untuk apa. Biarlah masing-masing orang punya pendapat. Perbedaan kan ada karena ada perbedaan yang lain. Keadaan beda, ya strategi beda; Beda tingkat pendidikan, ya lain pemahamannya; Beda nasib, ya beda pikiran; Beda bacaannya, ya lain pengetahuannya….Pokoknya gitulah.

[Angga Drives Alone]

5 Responses to “Indie: Idealis VS Komersil?”

  1. joseph Says:

    setuju.
    satu hal…
    marketing itu ga selalu pake uang
    selipkan faktor otak dan kerja keras, maka uang tidak akan terlalu vital dalam masalah marketing.

  2. Angga Says:

    Joseph benar…
    Itulah makanya, yang bikin kawanku kirim message ke aku kayak gitu. Aku menerapkan strategi pemasaran sendiri. CD lumayan laku, 1 bulan 100 CD terjual[nie sekarang 100 CD ke-2 mulai dijual, team pemasaran bergerak lagi]. Tapi ga sebanding sama capeknya…he..he..

  3. radIIItya Says:

    yah setidaknya.. semua orang bekerja untuk mencapai sukses haruslah ada kerja keras..
    intinya.. tujuan mencapai sukses dalam sebuah bisnis, haruslah mau bekerja keras, harus berpikir positif (jangan pernah mengeluh), dan setidaknya harus punya target khusus yang selama ini kamu impikan ditanamkan betul dalam otak, jika ingin sukses..

    dan betul kata joseph, marketing tidak selalu dengan uang.. (memang jika punya uang, kita bisa menggenjot banyak promosi ke seantero jagat)..
    tapi kita bisa memanfaatkan relasi, networking untuk mengembangkan marketing itu..

    if youe think you’re beaten, you are!
    if you think you dare not, you don’t!
    If you would like to win but think you can’t, it’s almost certain you won’t!
    If you think you’ll lose, you have lost!
    for out in the world you’ll find..
    succes begins with a fellow’s will.
    It’s all in his state of mind..

    Life’s battle don’t always go..
    to the stronger or faster man..
    for sooner or later, the man who wins is the one who thinks he CAN!

    yang penting, JANGAN PERNAH MENYERAH, ngga…
    kalau memang ini (band) bisa menjadi tujuan hidupmu, yah lakoni dengan ikhlas dan buat enjoy..

    ths kawan..

    MERDEKA!!

  4. AlvaNofember Says:

    Angga BOHONG!!! Di antara personil Alva Nofember, justru dia yang jarang jualan CD. Dia tinggal ongkang-ongkang terima duwit, kayak pengepul. Personel lain sing setengah mati.

  5. adikarna Says:

    Musisi kudu dari awal sudah tahu orientasi arah musiknya…dan itu bener2 mengalir jika kau musisi sejati..what ever you are, or you like….udah bener2 kerasa mana yang arah ke major ato ke side stream..dan udah enggak perlu dipaksa…keliatan banget
    Musisi yang mengenal industri dengan baik, dia bahkan bisa memilih jalur musiknya..itu musisi pintar

    kerja keras tu bener banget kata joseph…

    generasi kita bos, yang mewakili sby sekarang meskipun aku org sidoarjo..keterikatan untuk meramaikan scene lokal sby sangatlah kuat…

    Destiny is in your hand actually, may the GOD giving you and your band mercy!

Leave a Reply