pertanyaan paling sering ditujukan padaku

Adakah kamu menjawab pertanyaan dengan kebohongan, padahal pertanyaan itu justru paling sering ditanyakan orang?

Aku punya pertanyaan yang malas kujawab jujur. Pertanyaan itu adalah: KENAPA DULU KAMU CABUT DARI APPLES IN THE WONDERLAND [AIW]?

Bagi mereka yang lama berteman dengan aku, pasti tahu. Grup musik AIW adalah  band yang aku bentuk bersama teman-teman SMA dan satu kawan kuliah.  Kami dulu berjuang benar-benar dari bawah, manggung  dari  pentas kampung  ala 17an sampai  tampil di night club  tempat om-om kongkow-kongkow sama purel usia belasan.

Bahkan tambahan kata In THE WONDERLAND itu aku yang bikin. Saat itu namanya masih the Apples, sampai kemudian Jan Juhana dari SONY musik meminta kami untuk merubah nama karena waktu itu akan ada grup Apel dari Bandung yang akan diorbitkan oleh beliau.

4 tahun aku bersama Apples In the Wonderland, sampai aku memutuskan untuk cabut.

Nah sekarang kutulis dengan jujur.  Alasan sebenarnya mengapa aku cabut. Bagi kamu yang membaca tulisan ini, kalau ketemu aku jangan dibahas, okay…

AIW itu awalnya beraliran retro. Tahun 2000-an awal, baru NAIF band terkenal yang sealiran. Faktor produser jadi variabel yang menentukan perjalanan AIW. Permintaan untuk merubah arransemen, penambahan lagu, menyebabkan AIW seakan kebingungan menentukan karakter. Dulu musik AIW tergolong sangat unik. Maklum pada saat itu Indonesia masih kena arus Linkin Park dan Limp Bizkit. Aku nyaman banget di AIW karena menganggap grup ini idealis dan ga mau ikut arus. Sebelum akhirnya muncul MOCCA yang genre musiknya mendekati musik AIW.

Akhirnya musik AIW bergeser sedikit Brit Pop. Masih idealis. Dan waktu itu aku dan kawan-kawan berjuang untuk mengaransemen lagu seunik mungkin. Percaya atau tidak, demo lagu-lagu AiW yang dulu itu unik banget. Kalau diperdengarkan sekarang, masih tetap unik. Music Directornya saja YUDHA gitaris ROMEO, sama Erwin DEWA19. Musik AiW nyentrik banget, beda sama yang sekarang.

Nah, aku merasa gagal. Itu ketika dari Barat masuk musik GARRAGE. The Strokes, The Vines, JET, the HIVES dsb. AKu merasa kecolongan. Kenapa ga dari dulu Aiw bikin yang begituan, kenapa kalah cepat?

Rupanya 2 gitaris Aiw, karena basic musicnya memang Rock N Roll, mulai terpengaruh sama musik Garrage. Lagu-lagu Aiw dirubah jadi kayak the Strokes.

Mulai timbul muak dari dalam hatiku.

Waktu JET booming, aku prediksikan bahwa GARRAGE akan jadi trend di Indonesia. Sperti SKA di tahun 97. Ga lama Muncul The BRANDALS, The Sastro, dan the-the-the yang lainnya. Band-band Indonesia yang notabene jiwanya itu jiwa budak [ingat, kita dijajah Belanda 350 tahun] menyambut GARRAGE dengan penyerahan diri bulat-bulat, persis pelacur. Musisi2 kita itu ga punya kepribadian. Ga ada Jatidiri.

Coba saja lihat tatanan rambut, fashion, attitude musisi Indonesia sekarang. Sok Rock N Roll semuanya [sama kayak SKA waktu lagi booming]. Padahal skill bermain musiknya ga berkelas.

Nah, sama juga kayak AiW. Ternyata kawan-kawanku ga bisa mempertahankan jatidiri sebagai seniman yang kukuh pada orisinalitas.
"Paling tidak, dengan trend garrage di Indonesia, kita jadi tahu bahwa masyarakat menyambut baik musik Garrage" kata seorang personilnya. Sebuah teori yang nggak aku banget. Sama sekali bukan prinsip seorang trend-setter.

Sementara pada saat yang bersamaan, produser-produser di Jakarta mulai kehilangan respek. Terutama karena kualitas vokal yang belum memenuhi kriteria layak jual. Beberapa investor yang tadinya sangat tertarik mulai malas. Lagi-lagi karena aku dan kawan-kawan tidak mampu mengakali kualitas vokal.

Kuliahku Berantakan, personil AiW yang kuliah pada berantakan studinya. Aku kena SP dari Rektor. Gitarisnya cuti sampai setahun karena stress. Gitaris yang satu lagi sampai saat ini skripsi ga selesai-selesai.

Aku yang usianya paling muda dalam Aplles in the Wonderland akhirnya jadi malas. Apalagi kalau waktu itu aku menyadari bahwa kawan-kawanku sudah menginjak usia 25-26-27….Ga ada masa depan. Buat apa aku bertahan pada grup yang tidak lagi tegak pada idealismenya?, sementara usia personilnya sudah berada pada titik maksimal artis recording debutan [usia maksimal artis SONY MUSIC yang debutan adalah 25 tahun]

Waktu aku diskusikan dengan kawan-kawan, aku mengusulkan untuk mengganti vokalis dan menambah personil yakni pemain piano dan biola.
"Wahm kalau gitu nanti pembagian hasilnya semakin sedikit kita dapetnya.." kata gitarisnya. Kalimat itu bikin aku mantap untuk hengkang dari AiW. Itu kalimat pedagang, bukan pikiran musisi sejati.

Aku cabut.

Beberapa bulan setelah aku cabut, sebagai tanggung jawab, aku menawarkan  seorang vokalis untuk diaudisi jadi vokalis Aiw. Novan namanya.

Novan menyanyikan lagu-lagu Aiw yang baru saat audisi.
"Novan itu lumayan, sayang penampilannya kayak gitu. Yaaaa, kita ga sreg saja.." kata salah satu gitarisnya.[Memang  ada kawan yang menganggap bahwa Novan pantesnya nyanyi di Bis Kota]

Okay…
Setengah tahun kemudian, setelah aku lulus kuliah, aku ngeband lagi. Aku ajak Novan sama Ego [adik kandungku].
Bertiga kami berkarya. Lantas ketambahan keyboard. Mulai bikin lagu dan direkam secara live pakai handycam

Pasca kutunjukkan hasil rekamanku, Gitaris Aiw trus bilang kepadaku, "Novan itu buagussss, Angga, kamu tuh serius bikin Alva Nofember? Maksudku kalau kamu main-main, biarlah Novan jadi vokalis Aiw"

Ha..ha… Lagi-lagi idealisme yang runtuh…..

Kukirim demo liveku ke radio. Bersaing kami di chart radio. Sampai saat ini. Tidak kutulis di sini bagaimana hasilnya. Nggak etis.

Jadi itulah alasannya.

Selama ini kalau ditanya, "Angga, kenapa sih cabut dari APples?"

"Waktu itu aku Skripsi"
"Setelah lulus kok ga balik"
"Aku bosen ngeband"
"Kok sekarang ngeband"
"Iseng-iseng aja, buat refreshing"

Leave a Reply