Archive for January, 2008

Novel-Novel Favoritku

Wednesday, January 30th, 2008

Baca novel itu hobi saya sejak kecil. Kalo anda lewat toko kaset Aquarius ke arah pasar Keputran, di sebelah kanan persis tikungan ada kios buku bekas. Yang jual bapak pake songkok, nah itulah tempat langgananku beli buku dari kelas 3 SD. Sampai sekarang.

Kalo dulu bacaan favoritku itu TRIO DETEKTIF, STOP, Pasukan Mau Tahu dan Hardy Boys. Trus SMA saya mulai senang baca-baca novel sastra.

Berikut novel2 yg menurut saya TERBAIK.

1. Senja DI Jakarta by Mochtar Lubis
Saya pinjem nie novel dari Perpus di Kampus. Saya akui, kampus saya itu koleksi buku sastranya lengkap banget. Novel ini bercerita tentang hiruk pikuk Jakarta di awal taun 60. Tokohnya banyak masing2 dng cerita yg berbeda, namun suatu saat tokoh2nya saling bersinggungan. Jadi kalo anda pernah nonton film BERBAGI SUAMI dan anda kagum dng skenarionya yang parsial, maka  Mochtar Lubis sudah sekian puluh tahun yg lalu pake cara ini. Nie novel aslinya berbahasa Inggris. Trus diterjemahin oleh penulisnya dalam bahasa Inggris. [Mungkinkah ini satu2nya novel Indonesia yg ditulis dalam bahasa Inggris kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia sendiri oleh penulisnya?]

2. KUBAH by Ahmad Tohari
Bercerita tentang situasi politik menjelang taon 65. Nie novel saya rasa  mengungkapkan fakta sejarah lebih TERPERCAYA daripada buku PSPB yg ditulis DEPDIKBUD. Buku2 karangan Ahmad Tohari itu semuanya bagus. KUBAH paling keren.

3. Bumi Manusia by Pramoedya A. Toer
Merupakan judul pertama dari TRILOGI Pram yg legendaris.Tokoh utamanya bernama MINKE. Adalah pemuda pribumi cerdas anak Priyayi yg mampu mengenyam pendidikan tinggi di jaman Belanda. Buku ini juga memaparkan sejarah lebih JUJUR daripada buku PSPBnya DEPDIKBUD yg ditulis oleh pegawai2 Orde Baru. Tapi biarpun saya agak kurang sependapat dengan narasi2 obyektif pengarang, buku ini tetaplah buku sastra yg luar biasa.

4. Ziarah by Iwan Simatupang
Novel ini mampu bikin saya Bolos kuliah. Saya baca sampai tamat di perpus, saking bagusnya. Bercerita tentang seorang tukang cat kuburan yg mencari istrinya yg jelas2 sudah meninggal. Absurd, demikian tokoh2 dalam Novel ini. Alur ceritanya unik. FlashBacknya sering samar, sehingga pembaca ga sadar kalo tuh cerita lagi FlashBack. Luar Biasa. Novel ini berat, terlalu filsafat, hebatnya sense of humournya tinggi. Pembaca dijamin merengut saat membaca, trus tau2 terpingkal-pingkal. Kayak saya pas di perpus.

5.Laskar Pelangi by Andrea Hirata
Nie saya beli bukunya gara2 liat KICK ANDY. Saya penasaran, penulis masih muda gitu bisa bikin buku best seller, laku keras dalam hitungan minggu. Ternyata memang bukunya bagus banget. Bercerita tentang Laskar Pelangi, petualangan anak2 SD di Belitong [sekarang Bangka Belitung]. Persahabatan masa kecil yang benar2 indah. Kata2nya bagus. Indah. Gaya penuturannya hebat, mirip Ahmad Tohari, kadang2 absurd, jadi saya melihat Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi ini gabungan antara Ahmad Tohari dan Iwan Simatupang. Andrea Hirata adalah penulis generasi muda yang TERBAIK saat ini. Ayu Utami  dng SAMAN-nya kelasnya masih jauh di bawah. Jenar Mahesa Ayu terlalu dibesar2kan. Dewi Lestari saya belum baca.

6. PABRIK By Putu Wijaya
Ini novel Absurd tapi realistis. Bercerita tentang pegawai2 pabrik dan problemanya. Membaca buku ini agak ngeri juga. Ah, Putu Wijaya itu tukang teror lewat kata2. Skenarionya keren sangat. Buku ini cocoknya dibaca pas malam hari.

7. Lebih Merah dari Merah by Iwan Simatupang
Sama seperti Ziarah, tapi yg ini kisahnya tentang Dunia Gelandangan. Absurd. Unik. Humor tapi kadang2 melambung, berat alias susah dicerna. Makanya bacanya musti MERENGUT. Ceritanya bagus. Katanya mo dibikin film sama Riri Reza kalau nggak Mira Lesmana.

8. Ronggeng Dukuh Paruk By Ahmad Tohari
Nie buku pertama dari TRILOGI Ahmad Tohari. Ga kalah sama Triloginya Pramoedya, punyanya Ahmad Tohari juga luar biasa. Bahkan menurut saya lebih bagus dari Pram. Tokohnya bernama Srinthil. Doi seorang Ronggeng. Jalan ceritanya top abis. Gaya bahasanya juga khas Ahmad Tohari: Realistis, sederhana, namun deskripsinya detail.

Sebetulnya masih banyak yg bagus, tapi yaaaa kalah seleksilah. Penulis2 kayak Seno Gumira Ajidarma, Sapadi Joko Damono, Hamsad, budi darma, Mangunwijaya, Umar Kayam; itu bagus bagus karyanya. Tapi 8 yg terpilih itu paling keren.

interview with pak Breng

Monday, January 28th, 2008

Pak Breng kayaknya kaget. Saya yg biasanya menginterview soal Kangen Band, sinetron, Film India; kini tau-tau menyodorkan pertanyaan yg rada berat.

"Apakah Bapak merasa kehilangan sosok Pak Harto?"

Pak Breng senyum. Senyumnya manis kayak permen sugus. Senyum manis khas laki2 solo. Tukang bakso langganan saya itu lantas bilang, "bagaimana ya? Biasa saja kok"

"Lho, biasa bagaimana, Pak?"
"Ga ngefek, Mas, saya ga pernah jadi pejabat"

Saya ketawa. Polos betul, pikir saya.

"Pak, bukannya jaman pak Harto itu enak?"
"Bagaimana ya? Saya tdk merasa begitu, nyatanya justru di jaman itu usaha saya seret"
"Kenapa?"
"KArena saya tdk sepintar sekarang"
"Maksudnya?"
"Saya wiraswasta, berhasil tidaknya saya tergantung dari keahlian saya"

Masuk akal juga. Saya tatap matanya. Mata itu tajam, mata laki2 yg sudah tidak gentar lagi menghadapi bahaya kelaparan.

"Pak Breng, ingat, jaman pak Harto beras murah"
"Lho iya, tapi beli motor susah"
"maksud bapak?"
"Jaman dulu orang bisa beli beras, tapi jarang yg punya motor"
"Tapi setidaknya beras kan murah?"

Pak Breng senyum lagi. Lantas bilang.

"Orang kecil di jaman pak Harto itu seneng, karena beras murah. Mereka ga mikir tentang UTANG negara"

Gila. Saya ga nyangka pak Breng bisa ngomong gitu. Oh my Gosh, saya sdh meremehkan dia. Lekas2 saya berusaha buang rasa meremehkan orang kecil itu. Ah, itu perasaan meremehkan orang, khas graduated yg ga pengalaman. Kayak saya ini.

"Maksud Bapak?"
"Yaaa…beras murah, bensin murah, tapi MBENDOL MBURI, hancurnya di belakang"

ooooo…..Sempat terlintas di pikiran saya, jangan2 pak Breng ini seorang sarjana ekonomi. Ato jangan2 dia sarjana filsafat yg menganut paham Eksistensialis dan memutuskan menjadi manusia marginal, jadi tukang bakso, hanya untuk menjalani kehidupan sebagai manusia yg bebas, seperti TOKOH KITA dalam novel2 Iwan Simatupang?

"Jadi enakan mana sekarang sama jaman pak Harto?"
" yaaa enakan jaman sekarang, lha wong jaman dulu saya usaha ga selancar sekarang"
"Tapi pak Breng, banyak yg bilang enakan jaman pak Harto"
"ya itu tadi, mereka ga tau tentang Utang negara, ga peduli sama korupsi, atau yg bilang gitu pegawai negeri.."

"Kok pegawai negeri?" Saya rada jengkel. Ayah saya pegawai negeri.
"lha, iya, pegawai negeri yg bisa korupsi di jaman pak harto merasa lbh enak di jaman pak Harto karena bisa korupsi, proyek lancar, minta tanda tangan gampang, bolos kerja tetap digaji"

Sialan nih pak Breng.

"Oke deh, Pak. Last Question, Siapa sekarang yg pantas jadi Presiden?"
"Bagaimana ya? [nie khasnya pak Breng]……"
Doi mikir agak lama.

"Siapa saja boleh jadi Presiden. Selama saya mampu jualan bakso, ga masalah"

hahahaha….saya malah ketawa. Pak Breng yg lugu. Yang orang CILIK. Rakyat jelata. Bagi dia, siapa saja silahkan jadi presiden. Doi jalan terus. Yang penting baksonya tetep enak, ya orang tetep beli.

Saya akhiri interview itu dengan alasan mau mandi.