Bakat atau Alat?
Wednesday, September 17th, 2008Seandainya Ismet Sofyan, gelandang serang PSSI, memakai sepatu ADIDAS terbaru; yang desainnya dibikin oleh tim beranggotakan desainer2 produk bergelar Master of Design; diproduksi menggunakan komputer dan mesin2 mutakhir; pembuatannya diawasi oleh pengawas proyek yang penghasilannya sebesar dirut Pertamina…..
Sudah membayangkan?
….
Memakai sepatu tersebut Ismet Sofyan menerima umpan terobosan manis dari Boaz Saloza, dari rusuk kanan…lari….lari…menggiring bola…..dannnn….UMPAN ke MULUT GAWANGGGGG……
Bolanya pasti melambung ke belakang gawang…disambut oleh anak gawang, kalo nggak jadi rebutan para suporter kalo MELESETNYA kejauhan.
Nah…
Sekarang bayangkan seorang David Beckham, suruh dia memakai sepatu KASOGI lawas, ah, jangan deh, GA USAH pake sepatu sekalian alias CAKAR AYAM [Cekeran karo orang prancis bilang]
Kasih umpan terobosan sama kayak tadi, lantas David Beckham CROSSING THE BALL……PAsti nyampe ke mulut gawang dan di sana sudah menunggu striker yang siap untuk merayakan selebrasi mencetak gol!
Ismet Sofyan menggunakan sepatu canggih namun tidak menggunakan tehnik atau keterampilan yang mumpuni. Alias alatnya canggih tapi skillnya sederhana. Beckham sebaliknya. Alatnya sederhana tapi skillnya mahal, dia menginvestasikan apa yang dia punya miliki untuk menguasai ilmunya.
Generasi Biru
Nie meminjam istilahnya Slank. Generasi Hedon itu nama ilmiahnya. Itu lho anak2 muda yang punya kecenderungan untuk menggampangkan sesuatu, pengennya seneng, maunya gampang, cepat dan portable. Ga mau capek. Pengennya adem. Hehe..
Kalo di kalangan anak2 yang hobinya main musik, anak2 ini gampang dijumpai. Temui saja mereka dalam komunitas, coba ikuti obrolannya. Biasanya ngomongnya seputar merk2 alat musik. Ngukur kemampuan musisi dari merk alat musiknya, gampang berdecak kagum cuma gara2 ngeliat ada anak band pake alat musik yang di toko musik domestikĀ tergolong langka. Mereka kalo melihat ada musisi yang maennya jago, trus tanya: Si dia pake alat musik apa sih? Bukannya tanya: Si dia latihannya sehari berapa jam sih????
Saya pernah menangkap ekspresi kaget pada wajah seseorang yang tanya pada saya: si Gitaris itu pake efek apa?
Trus saya jawab kalem: Ga pake efek. Trus saya amati wajahnya.
Orang itu terbelalak tak percaya.
-MASAK?!
-Iya, ga pake efek, waktu itu dia maen volume gitar, tanpa efek.
-Kok suara gitarnya bisa teriak???
-Waduh embuh…..[padahal saya tau persis, tangannya KUAT, sehari 25 jam dia latihan main gitar! dengan gitar kayu murahan yang senarnya ketat. Kadang2 saja jari2 tangan kirinya diiket pake karet]
-Berarti tuh si gitaris memang enak, kata orang tadi, masih dng mata yg menyimpan kaget.
Biasanya orang2 kayak teman saya itu gituĀ usianya bekisar 16-23 tahun. Kalo yang di atas 25 itu generasinya masih skill For Music, d mana saat mereka remaja ga akan bisa ngeband di panggung kalo ga menguasai skill2 musik yang tinggi karena musik dulu di taon 80-90 an mengutamakan skill tinggi.
Anak2 band semacam itu biasanya kalau dikasih duit 5 Juta, lebih memilih beli alat yang mahal, ketimbang buat biaya kursus musik. Pikirannya gini, biar skillnya Sejago apapun, percuma kalo alatnya murahan. Sedangkan kebalikannya, kalo di era 90-an, musisi mikirnya, halah, beli alat yang murah2an aja yang penting maennya kayak Yngwie Malmsteen! di era itu banyak musisi2 handal yang jadi guru les privat. Saya masih ingat waktu interludenya SITI NURBAYA-nya Andra di observasi bareng2 sama teman2 di komplek sampe dibela2in begadang segala.
Tapi jaman memang dinamis.
Bumi dan waktu berputar kayak bola yang ditendang sama Ismet Sofyan tadi, lho…kok balik ke Ismet Sofyan lagi???
Maaf ya Ismet, cuma gara2 nyari perumpamaan buat generasi hedon sampe harus bawa nama anda…hehehe….habis anda juga sih…Umpan tarik mesti meleset.